Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tim Restorasi Gambut Daerah: Kebakaran Lahan Ogan Ilir di Lokasi Sama Seperti di 2019

Tim Restorasi Gambut Daerah: Kebakaran Lahan Ogan Ilir di Lokasi Sama Seperti di 2019 kebakaran hutan. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Sumatera Selatan, Darna Dahlan mengklaim tidak ada lahan gambut yang terbakar saat kebakaran di Kabupaten Ogan Ilir. Dia mengatakan lahan yang terbakar di Desa Palem Raya itu masuk kepemilikan pribadi.

"Lahannya lahan mineral, jadi bukan gambut," ucap Dahlan, kepada wartawan, Senin (2/8).

Dahlan mengatakan, di area terbakar itu memang ada rawa dengan ketebalannya 10-20 centimeter. Namun, itu tidak bisa disebut sebagai lahan gambut. "Tapi orang awam menyebutnya gambut," kata dia.

Selain itu, Dahlan mengatakan Kabupaten Ogan Ilir bukan termasuk wilayah target restorasi gambut yang dikerjakan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) bersama TRGD dan pemerintah daerah. Sehingga, tim TRGD tidak terlalu ikut serta.

Dahlan mengatakan, area kebakaran di Desa Palem Raya itu sejatinya lahan tidur. Kejadian serupa pernah terjadi pada 2019 silam. "2019 itu terbakarnya di sana juga," ujar dia.

Sebelumnya,Lahan tidur seluas 20 hektare di wilayah Ogan Ilir, Sumatera Selatan, terbakar sejak Rabu (28/7). Hingga Kamis (29/7) pagi, api belum berhasil dipadamkan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini terjadi Desa sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Ogan Ilir, Rabu (28/7) mulai pukul 15.00 WIB. Titik api berada di koordinat -3°29'15.0"S 104°36'02.0"E.

Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori mengungkapkan, karhutla berada di lahan tidur dengan vegetasi semak belukar. Pemilik lahan belum diketahui dan masih diselidiki.

"Luasan lahan yang terbakar kemarin sekitar 20 hektare, api sampai sekarang masih belum padam karena sampai semalam baru sekitar 7 hektare yang dipadamkan," ungkap Ansori, Kamis (29/7).

Petugas Manggala Agni, BPBD, TNI, dan Polri sejak kemarin berupaya menjinakkan api dengan cara manual, mobil tangki, dan mesin sibaura. Mereka memanfaatkan air yang cukup tersedia di kanal-kanal tak jauh dari lokasi kebakaran.

"Api belum padam total, masih menyisakan api kecil yang tidak bisa lagi dijangkau. Hari ini dilanjutkan pemadaman," kata dia.

Penyebab Kerusahakan Lahan Gambut

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menyatakan bahwa kerusakan lahan gambut di Indonesia utamanya disebabkan oleh pengurangan tutupan lahan akibat kebakaran atau konversi lahan, pembuatan kanal, dan tereksposnya sedimen berpirit di bawah lapisan gambut.

"Untuk gambut lindung kerusakannya karena ada pengurangan tutupan lahan, terdapat drainase buatan, dan tereksposnya sedimen berpirit," kata Kepala Kelompok Kerja Teknik Restorasi BRGM Agus Yasin dikutip dari Antara.

Pada lahan gambut budidaya, kerusakan terjadi ketika muka air tanah lebih dari 0,4 meter dari titik penataan dan sedimen berpirit--mineral disulfida besi--terekspos.

Menurut dia, penyebab kerusakan lahan gambut budidaya selain pengurangan lahan yang terjadi akibat kebakaran atau konversi lahan juga pembuatan drainase atau kanal.

Hasil analisis BRGM menunjukkan, sebanyak 178 dari 408 kesatuan hidrologis gambut (KHG) yang dikaji sudah memiliki kanal. Total panjang 178 kesatuan hidrologis gambut yang sudah memiliki kanal mencapai 239.803,38 kilometer atau sekitar enam kali panjang keliling Bumi.

"Kanal-kanal yang dibuat di lahan gambut ini pada akhirnya membuat muka air tanahnya berkurang. Inilah kenapa indikator kerusakan ekosistem gambut itu salah satunya dari muka air tanah juga," kata Agus.

Dia menambahkan, kalau tinggi muka air kanal bisa dijaga maka kelembapan gambut akan terjaga dan kebakaran lahan bisa dicegah.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP