Terangi daerah terpencil, wanita cantik ini diganggu makhluk halus
Merdeka.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral(ESDM) mengajak para sarjana dari perguruan tinggi untuk melistriki daerah-daerah terpencil dengan energi baru dan terbarukan melalui program Patriot Energi.
Program yang dimulai pada Oktober 2015 lalu kini tengah rehat, dan program tersebut sudah berakhir pada Maret 2016 kemarin.
Sebagian patriot energi sudah kembali ke aktivitas seperti biasanya, terlepas dari kehidupan mereka yang serba kesulitan fasilitas dan berjuang di pedalaman selama menjadi patriot energi.
Salah seorang patriot energi bernama Putty Annisa Anugerah, menyempatkan diri untuk membagikan kisahnya sebagai Patriot Energi selama bertugas di Desa Katurey, Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai.
Menurutnya, masyarakat mentawai memiliki budaya yang unik, salah satunya adalah budaya yang dinamakan Tulo.
"Selama di sana membantu sosialisasi masyarakat dalam melistriki di daerah, saya tahu budaya Tulo. Misalnya kalau ada laki-laki dan perempuan pegangan tangan, itu di sana pihak laki-lakinya akan dikenakan denda sesuai permintaan cewek, misalnya harus bayar dengan 5 kelapa," ujarnya kepada merdeka.com usai acara Sarasehan Media ESDM 2016 di Bogor, Jawa Barat, Jumat (20/5) malam.
Selain itu, lanjut Putty, dirinya menilai Mentawai masih sangat kental akan mistis. Sebab, dua bulan pertamanya di Mentawai dirinya kerap diganggu oleh makhluk halus.
"Dua bulan pertama saya di Mentawai itu saya tidurnya di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) di sana saat saya sedang haid, saya kerap diganggu, ada suara ketawa, meja pindah-pindah sendiri, banyak deh," jelasnya.
Meski kerap diganggu, dara cantik yang berasal dari Jakarta ini tidak merasa takut. Hanya saja, sejak kejadian tersebut dirinya memilih pindah karena tak kerasan dengan gangguan yang kerap muncul tersebut.
"Saya cari tempat, ketemu kepala sekolah dari Padang, orangnya baik. Saya bilang 'bu saya tinggal di tempat ibu di gudangnya aja deh'. Akhirnya dia setuju dan saya tinggal di gudang yang kotor dan sudah tidak layak kondisinya," jelasnya.
Namun demikian, lulusan Geofisika Universitas Indonesia ini menilai dibalik duka nya yang dia dapat, masyarakat Mentawai adalah masyarakat yang sangat giat mencari nafkah dan penuh semangat.
"Semenjak ada pembangunan PLTS, pergerakan ekonomi mereka menjadi lebih produktif di malam hari, hasil ikan di asepin untuk dijual. Nyari kumang (siput) untuk dijual, harganya Rp 35.000 per Kg. Itu untuk mereka kirim ke Padang sama Jakarta.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya