Tekanan inflasi meningkat
Merdeka.com - Penaikan tarif listrik dan el nino menjadi dua faktor yang dikhawatirkan bakal berkontribusi besar menyebabkan inflasi ke depan. Keduanya bisa mendorong penaikan harga pangan saat bulan puasa dan lebaran.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara mengatakan pihaknya tengah mencermati risiko inflasi dari pola musiman perayaan hari besar keagamaan. "Risiko lainnya seperti potensi penyesuaian administered price (kenaikan tarif tenaga listrik) dan peningkatan harga pangan akibat El Nino," ujarnya di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (12/6).
Namun, menurut dia inflasi Mei 2014 masih terkendali. Ini lantaran masih berlangsungnya koreksi harga beberapa bahan pangan dan stabilnya inflasi inti.
Inflai Mei 2014 tercatat 0,16 persen (month to month) atau sebesar 7,32 persen (year-on-year).
"Inflasi inti mencapai 0,23 persen (m-t-m) atau relatif stabil seperti bulan sebelumnya. Karena, didukung oleh masih menurunnya harga global di tengah depresiasi rupiah. Volatile food masih mencatat deflasi, meski dengan intensitas yang berkurang dari bulan sebelumnya," jelas dia.
Tirta menyebutkan, deflasi volatile food tersebut disebabkan oleh melimpahnya produksi cabe di sejumlah wilayah. "Serta, masih berlangsungnya panen beras di beberapa daerah," ungkapnya.
Guna mengantisipasi risiko inflasi tersebut, BI akan memperkuat langkah-langkah penguatan koordinasi pengendalian inflasi, melalui forum Tim Pengandalian Inflasi (TPI). "BI menilai, inflasi sampai dengan Mei 2014 masih sejalan dengan pencapaian sasaran inflasi 4,5 persen plus minus 1 persen pada 2014." (mdk/yud)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya