Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tekan kerugian Pertamina, pemerintah ogah pangkas harga premium

Tekan kerugian Pertamina, pemerintah ogah pangkas harga premium Antrean BBM. ©2014 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Pemerintah sengaja tak menurunkan harga premium meski harga minyak dunia sedang menurun. Ini dilakukan guna menekan kerugian Pertamina dalam penjualan premium.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi dalam "Energi Kita", diskusi mingguan yang digagas Sewatama, RRI, merdeka.com, IJTI, IKN di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (6/9).

"Sekarang tidak bisa kita turunkan. Karena kami harus menutupi kekurangan bayar yang dilaporkan Pertamina ke pemerintah."

Hingga saat ini, Pertamina menderita kerugian penjualan premium sebesar Rp 13 triliun.

Menurut Agus, pemerintah sudah menurunkan harga premium dua kali dalam sebulan. Yaitu, pada 19 Januari 2015 dari Rp 7.600 per liter menjadi Rp 6.600 per liter. Dan, 15 Februari dari Rp 6.600 per liter menjadi Rp 6.400 per liter.

"Hitungan tersebut melalui kesepakatan dengan DPR selama satu bulan penuh,"

Kemudian, lanjutnya, harga minyak dunia merangkak naik pada Maret dan Juni 2015. Namun, pemerintah hanya sekali menaikkan harga premium dari Rp 6.400 per liter menjadi Rp 7.300 per liter.

"Seharusnya pemerintah menaikkan harga Premium pada saat itu (Juni). Tetapi, tidak kami lakukan. Kami sepakat untuk tidak menaikkan harga BBM. Akibatnya Pertamina melaporkan kekurangan bayar sebesar Rp 13 triliun hingga saat ini," katanya.

Agus menambahkan pemerintah dan DPR telah sepakat evaluasi harga BBM dilakukan enam bulan sekali dari sebelumnya sebulan sekali. Sekedar mengingatkan, pemerintah memutuskan harga premium mengikuti dinamika pasar.

Sementara, solar masih disubsidi sebesar Rp 1.000 per liter. (mdk/yud)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP