Tekan defisit, Arab Saudi pangkas subsidi energi
Merdeka.com - Arab Saudi berencana memangkas anggaran belanja, mereformasi subsidi energi, dan menggenjot penerimaan lewat pajak dan privatisasi perusahaan negara. Itu dilakukan dalam rangka menekan defisit anggaran.
"Ekonomi kami berpotensi menemui banyak tantangan," kata Raja Salman, pemimpin Arab Saudi, seperti diberitakan Reuters, Selasa (29/12).
Sebagai gambaran, tahun ini, defisit anggaran Arab Saudi diperkirakan mencapai 267 miliar riyal atau 15 persen dari produk domestik bruto. Nah, tahun depan, itu bakal diperkecil menjadi hanya sebesar 326 miliar riyal.
Sebagai turunannya, alokasi anggaran belanja dipangkas menjadi hanya sebesar 840 riyal dari sebesar 975 miliar riyal tahun ini. Untuk itu, tarif bensin, listrik, dan air bakal dinaikkan sebagai konsekuensi dari pengurangan alokasi subsidi energi secara bertahap dalam lima tahun ke depan.
Terkait bensin, otoritas negara kerajaan tersebut bakal menaikkan harga gasolin oktan 95 dari 0,60 riyal menjadi 0,90 riyal per liter. Penaikan ini masih terbilang rendah ketimbang harga bensin standar global.
Di sisi lain, Arab Saudi mematok penerimaan 514 miliar riyal. Turun ketimbang tahun ini sebesar 608 miliar riyal.
Penurunan ini seiring tren pelemahan harga minyak dunia. Mengingat 73 persen pendapatan Arab Saudi berasal dari penjualan minyak.
Untuk menggenjot penerimaan, Arab Saudi bakal menyosialisasikan pengenaan pajak pertambahan nilai dan pungutan minuman ringan dan tembakau.
Menteri perencanaan dan Ekonomi Arab Saudi Adel Fakieh membantah pemangkasan subsidi bertujuan untuk meningkatkan kapasitas modal Negara Petrodolar tersebut dalam memimpin pasukan koalisi memerangi pasukan Syiah Houthi di Yaman. Adel mengatakan pihaknya telah meningkatkan anggaran perangnya hingga sebesar 20 miliar riyal tahun ini.
(mdk/yud)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya