Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tax Amnesty buat Rupiah semakin menguat

Tax Amnesty buat Rupiah semakin menguat rupiah. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat di perdagangan hari ini, Jumat (14/10) Rupiah ditutup di level Rp 13.033 per USD atau menguat dibanding penutupan perdagangan kemarin di Rp 13.069 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah sempat melemah di siang tadi yaitu menyentuh level Rp 13.083 per USD pada pukul 11.00 WIB. Namun, setelah itu Rupiah terus bergerak menguat hingga penutupan.

Ekonom Universitas Diponegoro, Akhmad Syakir Kurnia menyebut, penguatan nilai tukar Rupiah merupakan efek positif dari program amnesti pajak atau pengampunan pajak.

"Ini sentimen pasar merespon keberhasilan amnesti pajak. Ini tergantung dari momentum tersebut apakah bisa dijaga oleh Pemerintah," katanya seperti ditulis Antara Semarang.

Dikatakan, amnesti pajak tahap pertama sudah selesai dilaksanakan sedangkan tahap kedua baru dimulai awal bulan ini. Selanjutnya, amnesti pajak akan dilaksanakan hingga Maret 2017. "Keberhasilan amnesti pajak pada tahap pertama ini telah memberikan sinyal positif. Diharapkan kondisi ini dapat bertahan hingga akhir program tersebut dilaksanakan," katanya.

Dengan penguatan mata uang Rupiah tersebut artinya upaya dari sisi domestik bisa tercapai. Meski demikian, penguatan mata uang juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu kondisi ekonomi global.

"Untuk mengurangi dampak dari ekonomi global ini akan tercipta keseimbangan baru, salah satunya adalah Indonesia harus mengurangi ketergantungan luar negeri," katanya.

Seperti misalnya Singapura, selama ini Indonesia banyak melakukan ekspor barang ke negara lain melalui Singapura. Padahal, Singapura bukan merupakan negara pengguna produk dari Indonesia. "Sebagai upaya mencari keseimbangan baru ini diharapkan bisa menjadi momentum Indonesia untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara lain," katanya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak akan sepenuhnya efektif mengingat Indonesia juga harus melakukan ekspor ke negara lain.

"Bagaimanapun juga Indonesia harus melakukan ekspor, dengan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya membaik pasti terjadi penurunan permintaan dari negara lain. Kondisi ini yang berakibat buruk pada nilai tukar rupiah," katanya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP