Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Target Pembebasan Pajak Pembelian Mobil Baru Terganjal Suku Bunga Kredit Perbankan

Target Pembebasan Pajak Pembelian Mobil Baru Terganjal Suku Bunga Kredit Perbankan Booth Mazda di Telkomsel IIMS 2019. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad mengatakan kebijakan relaksasi PPnBM 0 persen tidak akan membuat penjualan kendaraan bermotor khususnya mobil meningkat tajam. Sebab, pertumbuhan pembelian terganjal suku bunga pinjaman.

"Pertumbuhan pembeliannya memang relatif tinggi yakni 5 persen ketika tanpa PPnBM dan terhambat suku bunga kredit yang sampai 70 persen," kata Tauhid dalam Diskusi Online INDEF bertajuk Apa Kata Konsumen Tentang Gratis Pajak Mobil Baru?, Jakarta, Minggu (21/2).

Selain itu, kebijakan ini juga diperkirakan akan menurunkan pendapatan dari PPnBM otomotif sebesar Rp 2,28 triliun. Begitu juga dengan pajak daerah yang juga akan turun.

Sedangkan potensi peningkatan Pajak Penghasilan (PPh) pun bergantung pada perkembangan kinerja perusahaan otomotif.

Selanjutnya

target pembebasan pajak pembelian mobil baru terganjal suku bunga kredit perbankanRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Maka dari itu, Tauhid menyarankan kebijakan relaksasi ini tidak perlu dilakukan. Mengingat tanpa ada kebijakan ini pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor mulai mengarah ke posisi normal.

"Tanpa kebijakan ini pertumbuhan penjualan menuju normal dan dampak ekonominya dapat dikatakan sangat kecil sekali," kata dia.

Bila kebijakan ini terus dilanjutkan, maka pemerintah disarankan mencari alternatif sumber pajak lain untuk mengganti kehilangan PPnBM, Pajak Daerah dan PPN. Pemerintah juga diminta untuk mengatasi tingginya suku bunga dan jenuhnya kegiatan konsumsi di perbankan.

"Mengingat dalam situasi resesi perbankan akan jauh lebih berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya," kata dia.

Dari itu semua, Tauhid menegaskan untuk meningkatkan konsumsi kelas menengah harus dimulai dari penanganan pandemi Covid-19. Bila ini bisa teratasi dengan baik, maka konsumsi masyarakat akan kembali tumbuh.

"Mengatasi Covid-19 menjadi solusi penting agar konsumsi kelas menengah meningkat. Khususnya barang budaya dan rekreasi, barang lainnya dan sandang," kata dia mengakhiri.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP