Target pajak Rp 1.489 triliun dinilai terlalu ambisius
Merdeka.com - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015 sudah diketok. Beberapa pihak meragukan target-target pemerintahan Jokowi-JK yang tercantum di APBN-P 2015.
Chief Economist Bank Rakyat Indonesia (BRI) Anggito Abimanyu pesimis dengan target pajak yang ditentukan sebesar Rp 1.484,6 triliun. Dia mengaku kaget pemerintah berani memasang target penerimaan pajak begitu tinggi.
Dengan target itu, pemerintah berambisi menggenjot pertumbuhan pajak naik 29,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Dalam pandangannya, banyak hal perlu dipertimbangkan dalam membuat perencanaan pajak, termasuk relaksasi masyarakat.
Idealnya, kata dia, pertumbuhan pajak sebesar 10 persen dari tahun sebelumnya. "Pengalaman saya 10 tahun, range 5 persen sampai 10 persen paling tinggi 20 persen dari basis tahun sebelumnya rasanya cukup," kata Anggito di Jakarta, Senin (16/2).
Untuk mengejar target penerimaan pajak, dia menyarankan pemerintah menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Sebab, dengan hanya kenaikan PPN 1 persen, pemerintah mendapat Rp 50 triliun.
"Itu pernah saya usulkan di pemerintahan sebelumnya. Tapi tidak dipakai. Padahal itu bisa dipertanggungjawabkan secara akademis," ujarnya.
Dilihat dari asumsi makro, Anggito mengungkapkan ekonomi nasional diperkirakan hanya bisa tumbuh 5,2 persen akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi secara global, kecuali Amerika.
Untuk nilai tukar Rupiah juga diprediksi makin melemah. Prediksinya, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tetap berada di atas Rp 12.500 per USD.
Namun, Anggito menyabut baik penetapan patokan harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar USD 60 per barel dalam APBN-P 2015. Penetapan harga minyak dianggap sesuai dengan acuan harga minyak yang ditetapkan Arab Saudi selaku negara pemimpin produsen minyak. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya