Tanjung Priok tak hanya idap persoalan waktu inap kontainer
Merdeka.com - Pelabuhan Tanjung Priok tak hanya mengalami persoalan lamanya waktu inap atau dwelling time kontainer. Tetapi juga mahalnya demmurage atau denda keterlambatan pengembalian kontainer harus dibayarkan importir ke maskapai pelayaran.
Salah satu penyebab demmurage adalah pelabuhan dipegang oleh banyak operator. Ini membuat kapal datang lebih awal tak otomatis mendapat pelayanan lebih dulu atau first come first serve.
Direktur Utama PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT) Dani Rusli mengaku, konsep itu sulit diterapkan di pelabuhan dengan banyak operator. Seperti, Pelabuhan Tanjung Priok.
"Pola kapal prinsipnya barang dikumpulkan di satu dermaga, kalau kapal datang barang peti kemas sudah siap untuk dibongkar turunkan, muat atau dinaikkan," jelas Dani, Jakarta, Rabu (30/3).
Dani menjelaskan, kebanyakan kapal bersandar di Tanjung Priok sudah berjadwal.
"Masak, karena satu kapal terlambat 5 jam kemudian yang datang dulu dilayani?" imbuh Dani.
"Misal ada 3-4 kapal. Bagaimana caranya pola operasinya dikonsolidasikan. Tidak satu kapal telat datang karena badai kemudian kami layani kapal lain yang datang duluan, nanti barangnya nggak sesuai bagaimana?"
(mdk/yud)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya