Suku bunga simpanan turun, Taspen ubah pola investasi
Merdeka.com - Pemerintah sedang berusaha menciptakan kondisi pendukung agar suku bunga simpanan perbankan bisa turun. Selain itu, suku bunga kredit perbankan juga bisa diturunkan.
Caranya adalah dengan menggandeng Bank Indonesia (BI) sebagai pemegang kebijakan moneter dan penentu suku bunga acuan (BI Rate). Pemerintah juga menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengawasi perilaku perbankan yang menyebabkan suku bunga tinggi.
Bersama OJK, pemerintah berusaha menekan perilaku kementerian/lembaga yang meminta perlakuan khusus saat menyimpan dana di perbankan nasional. Perlakuan khusus itu berupa special rate atau tingkat bunga khusus yang diberikan bank kepada kementerian/lembaga agar bersedia menyimpan uangnya di bank tersebut.
Perilaku ini lah yang menjadi salah satu faktor tingginya suku bunga simpanan bank hingga melebihi angka target inflasi, 4 persen plus minus 1 persen.
Menanggapi rencana pemerintah itu, PT Tabungan dan Asuransi Pensiun (Taspen) mulai mengubah strategi pengelolaan dananya.
"Pemerintah punya arahan ingin mengurangi tingkat bunga, perang bunga supaya tidak terjadi dengan cara mengontrol bunga simpanan. Taspen membuat strategi baru," kata Direktur Utama Taspen, Iqbal Latanro di Hotel Novotel, Bogor, Sabtu (27/2).
Iqbal menjelaskan, sebagian besar dana simpanan Taspen di perbankan sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga. "Ini lah tantangan yang dihadapi oleh kita-kita yang ada di Taspen. Kalau kita tidak pandai mengelola tahun ini akan kemakan walaupun beberapa deposito dan obligasi yang tidak jatuh tempo tahun ini," jelas Iqbal.
Tercatat total aset investasi per 31 Desember 2015 sebesar Rp 142,32 triliun atau tumbuh 14,51 persen dari akhir tahun 2014 sebesar Rp 124,29 triliun.
Komposisi dana yang ada di Taspen tahun 2015 Rp 91,61 triliun atau 64,37 persen ada di obligasi, sukuk, dan KIK EBA. Deposito Rp 44,93 triliun atau 31,57 persen.
"Deposito dan obligasi, sukuk baru memakai bunga baru. Ini kita harus jaga dengan baik. 4,06 persen berupa saham, reksadana, dan lainnya. Obligasi korporasi dan pemerintah. Di atas 90 persen obligasi, sukuk," ujar Iqbal.
Total aset investasi tahun 2016 ditargetkan mencapai Rp 162,6 triliun dengan porsi obligasi, sukuk dan KIK EBA 64,41 persen, porsi deposito 26,65 persen dan porsi saham, reksadana dan lain-lain 8,94 persen. (mdk/sau)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya