Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sukseskan konversi BBM, BBG bakal dijual Rp 3.600 per liter

Sukseskan konversi BBM, BBG bakal dijual Rp 3.600 per liter Peluncuran SPBG Mobile. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Merdeka.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta Pertamina dan PGN tahun ini serius mempercepat realisasi konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Sejumlah program melalui Pertamina dan PGN telah dipersiapkan.

"Program yang sekarang ini nomor satu, masalah gas harus tersedia, jaringan gasnya kita buat," ujar Wakil Menteri ESDM Susilo Siswo Utomo di kantornya, Jakarta, Jumat (7/2).

Pihaknya akan menetapkan harga jual gas sebesar 60 persen hingga 65 persen dari harga BBM subsidi jenis Premium. Hal itu untuk mendorong agar masyarakat mau beralih ke gas.

"Harga idealnya 60 persen sampai 65 persen dari harga BBM subsidi. Jadi, kalau sekarang harga Premium Rp 6.500, kalikan 60 persen, berarti sekitar 3.600 (per liter setara premium). Sekarang kan Rp 3.100, idealnya segitu," pungkas dia.

Selain pembangunan jaringan pipa, terang Susilo, pihaknya tengah membicarakan kemungkinan pendirian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang terintegrasi dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik Pertamina. "Kan tidak dibutuhkan lahan besar," terang Susilo.

Di samping itu, kata Susilo, pihaknya juga akan mendorong ditambahnya jumlah Mobil Refueling Unit (MRU). Menurut dia, tahun ini akan ada penambahan empat MRU oleh PGN.

"Sehingga, untuk Jakarta kita suplai dulu yang bagus sebagai pelopor. Kemudian juga menambah SPBG-SPBG supaya masyarakat merasa nyaman," kata dia.

Sementara itu, terkait dengan alat konversi, Susilo mengatakan, pihaknya tidak akan terlalu fokus pada penyediaan alat tersebut. Menurut dia, alat konversi baru akan efektif diberlakukan jika semua infrastruktur telah tersedia.

"Kalau jumlah alat konversi dari pemerintah itu pancingan saja. Jadi, nanti kalai misalkan sistemnya sudah ada, masyarakat akan kita dorong untuk membeli alat konversi, karena bisa menghemat banyak," ungkap Susilo.

Selanjutnya, Susilo menjelaskan, jika di DKI saja sudah dapat menyerap 10 MMSCFD, maka akan banyak pengguna BBM beralih ke BBG. Menurut dia, hal itu cukup untuk mengurangi ketergantungan impor BBM.

"Katakanlah 10 MMSCFD saja, itu sudah terpenuhi. 1 MMSCFD itu bisa untuk 4.000 sampai 5.000 pelanggan. Jadi, kalikan saja berapa (penghematannya)," kata dia. (mdk/bim)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP