Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Stok dan Harga Batubara Hantui Industri Semen Dalam Negeri

Stok dan Harga Batubara Hantui Industri Semen Dalam Negeri Semen. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Muhammad Khayam tengah mencermati pemenuhan kebutuhan batubara untuk domestik atau domestic market obligation (DMO). Selain itu, dia juga tengah mengamati gejolak harga batubara yang sangat berpengaruh bagi kegiatan industri maupun ekspor semen.

Saat ini, batubara memakan porsi sekitar 40 persen dari total biaya produksi industri semen. Sehingga indikator tersebut lebih punya pengaruh besar pada kelanjutan industri komoditas semen. Selain itu, industri juga masih dibayangi pandemi Covid-19 varian omicron.

Khayam memaparkan, angka produksi dan kebutuhan industri semen untuk 2021 lalu naik sebesar 6,8 dan 4,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, nilainya belum mencapai kondisi normal dibanding sebelum pandemi seperti pada 2019.

Oleh karena itu, dia tak memungkiri jika ancaman gelombang omicron juga tetap harus diwaspadai oleh seluruh pelaku industri semen dan klinker (semen setengah jadi).

"Pertumbuhan industri semen masih dibayangi gelombang pandemi berikutnya yang mungkin terjadi," kata Khayam dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI, Selasa (25/1).

Namun, industri semen nasional tetap mengalami oversupply/overcapacity sebesar 47 juta ton, dengan utilisasi rata-rata 58 persen pada saat gelombang pandemi Covid-19 di 2021 silam. Situasi ini membuat pelaku industri semen dan klinker gencar menjemput pasar ekspor. Bahkan pada 2019, ekspor klinker mengalami kenaikan 239 persen dan terus mengalami peningkatan hingga saat ini.

"Guna mengimbangi permintaan dalam negeri akibat pandemi pada 2020 dan 2021, industri semen semakin gencar melakukan ekspor. Tercatat pada 2020, ekspor semen dan clinker naik sebesar 44 persen, dan tahun 2021 mengalami kenaikan kembali 25 persen," bebernya.

Ekspor Semen Kalah Dibanding Klinker

Meski begitu, jika dicermati lebih lanjut, porsi ekspor pada 2020-2021 lalu masih didominasi produk klinker. Ekspor klinker yang naik pada 2019 mencapai angka 5,226 juta ton.

Sementara ekspor semen hanya sebesar 1,222 juta ton, anjlok dibanding 2018 yang sekitar 4,1 juta ton. Pasokan produk semen ke pasar internasional pun makin turun di 2020 yang hanya sekitar 1,097 juta ton, meskipun sedikit naik pada 2021 menjadi sekitar 1,6 juta ton.

Menurut Khayam, ekspor semen dan klinker saat ini memang sangat dipengaruhi oleh stok pasokan batubara dalam negeri, hingga harga komoditas tersebut yang terus melonjak akibat kebijakan larangan ekspor batubara yang digaungkan Pemerintah RI.

"Proyeksi pertumbuhan ekspor semen dan klinker tahun 2022 sangat bergantung pada harga dan ketersediaan batubara sebagai bahan bakar utama," tutupnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP