Sri Mulyani: Subsidi BBM 3 Kali Lebih Besar Dibanding Beasiswa LPDP
Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, peran APBN sebagai shock absorber pada masa pandemi Covid-19 sangat keras. Bahkan, nilai subsidi dan kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) 3 kali lebih besar dibandingkan beasiswa terhadap peserta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Untuk tahun 2022 saja, nilai subsidi dan kompensasi BBM dalam satu tahun tembus di angka Rp500 triliun. Sementara beasiswa untuk 35.000 peserta LPDP dalam satu tahun sekitar Rp120 triliun.
"LPDP 35.000 orang, kita sekolahkan hampir 18.000 alumni LPDP, dananya Rp120 triliun. Kita hanya pakai dari hasil investasi, bisa sekolahkan anak hebat untuk jadi pemimpin masa depan. Bayangkan subsidi (BBM) Rp555 triliun habis dalam 1 tahun, lebih dari 3 kali lipat (dibandingkan dengan LPDP)," ujarnya saat memberi kuliah umum di STKIP PGRI Sumenep, Madura, Jawa Timur, Kamis (2/2).
Namun, yang menjadi sorotan Sri Mulyani bukan tentang nilai subsidi BBM dengan dana abadi LPDP. Poin penting pada pemaparannya yaitu, upaya negara melalui APBN agar masyarakat tidak semakin terjerembap kesulitan ekonomi dampak dari pandemi Covid-19 dan geopolitik antara Rusia-Ukraina.
Di satu sisi, pemerintah juga tidak ingin membebankan APBN hanya untuk memberikan subsidi dan kompensasi BBM. Perempuan yang pernah menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menuturkan bahwa, mau tidak mau pemerintah memutuskan untuk menaikan harga BBM agar APBN tetap sehat.
Dia mengatakan, jika mengikuti mekanisme pasar, selama periode transisi pandemi Covid-19 menuju kondisi normal, kenaikan harga BBM di Indonesia bisa 2 hingga 3 kali lipat.
"Kalau ikut mekanisme pasar, kenaikan BBM lebih dari 100 persen atau bahkan 200 persen kalau shocked besar ini tidak ditahan rakyat dan ekonomi akan kena dampak lagi maka APBN menahan kenaikan harga tersebut. Itulah disebut dengan shock absorber," pungkasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya