Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sri Mulyani Buka-bukaan soal Dampak Perang Dagang AS-China

Sri Mulyani Buka-bukaan soal Dampak Perang Dagang AS-China Sri Mulyani. ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memaparkan tantangan yang tengah dihadapi perekonomian Indonesia. Salah satunya yaitu perlambatan ekonomi global yang terjadi karena isu ketidakpastian perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Sri Mulyani mengatakan, dari segi perdagangan semua negara kini mengikuti ketegangan hubungan perdagangan antara AS dan China. Kondisi itu semakin lama membuat pesimisme bagi pertumbuhan ekonomi global yang bisa tahan dari kekhawatiran resesi.

"Keputusan terbaru dari AS untuk menaikkan tarif dan retalasi terhadap China. Mereka terus berperang kenaikan tarif satu sama lain. Situasi global ini membuat para pembuat kebijakan yang pernah menghadapi krisis ekonomi benar-benar bekerja untuk memastikan kondisi ekonomi membaik setelah krisis, kini justru kembali melemah," jelas Sri Mulyani di saat menjadi pembicara di Aula Badan Kebijakan Fiskal, Jakarta, Rabu (28/8).

Menteri Sri Mulyani mengatakan dalam konteks G20, para pembuat kebijakan pun terus membuat perubahan demi memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat dan menyelesaikan isu perdagangan yang kian memanas. "Hal ini yang kita perlu lakukan untuk menghadapi apa yang kita lihat saat ini," imbuh dia.

Dengan kebijakan ekonomi yang terbuka, maka kondisi perang dagang antara kedua negara tersebut dikhawatirkan berdampak pada ekonomi nasional. Salah satunya pergerakan kondisi ekonomi global dan perdagangan akan berpengaruh ke ekspor.

"Ini juga tergambar dari kondisi neraca transaksi berjalan kita yang berpengaruh pada seberapa cepat dan kuat ekonomi Indonesia bisa tumbuh tanpa mengganggu tujuan pembangunan yang berkelanjutan, baik dari sisi fiskal maupun neraca pembayaran," jelas dia.

Oleh karena itu, pihaknya sebisa mungkin akan membangun fundamental ekonomi yang kuat dari sisi domestik. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir dampak dari kondisi perang dagang.

"Untuk itu kita perlu memastikan bagaimana permintaan domestik, investasi, pengeluaran konsumsi pemerintah bisa cukup kuat di tengah tekanan ini dan kontraksi pada ekspor," tandas dia.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP