Sri Mulyani Beberkan Dampak Pandemi Covid-19 Secara Luas
Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebut pandemi Covid-19 telah mengakibatkan negara-negara di dunia menghadapi permasalahan keuangan dan pembiayaan, seperti ruang fiskal yang menyempit akibat berkurangnya penerimaan dan rasio utang terhadap PDB yang meningkat. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan untuk biaya penanganan pandemi di beberapa negara tersebut meningkat secara drastis.
Tak sampai di situ, pandemi Covid-19 juga berdampak pada kesehatan, sosial, dan ekonomi, serta dapat meluas menjadi krisis keuangan global dan mengancam 3 dari 5 elemen Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu people (manusia), prosperity (kesejahteraan), dan partnership (kemitraan).
"Jadi, dari sudut pandang SDGs, pandemi ini jelas menyerang apa yang kita sebut people (manusia), prosperity (kesejahteraan), dan partnership (kemitraan), (adalah) tiga dari lima ‘P’ (elemen) SDGs. Pandemi ini mempengaruhi perekonomian negara secara signifikan, dan yang pasti membuat sumber daya pembiayaan untuk mencapai tujuan pembangunan (SDGs) akan menjadi terganggu," kata Sri Mulyani di Jakarta, Jumat (3/7).
Dia menyadari, pendapatan dari perpajakan menurun karena semua kegiatan ekonomi telah terkontraksi, dan pada saat yang sama kebutuhan untuk pengeluaran negara baik untuk kesehatan maupun jaring pengaman sosial dan stimulus ekonomi meningkat secara dramatis.
Rasio Utang Membengkak
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comBendahara Negara ini melanjutkan dalam kondisi pandemi ini, di beberapa negara ruang fiskal dan rasio utang terhadap PDB-nya sudah di melampaui batas. Untuk bisa memenuhi pembiayaannya maka diperlukan solidaritas dan aksi global untuk merespon kondisi tersebut, khususnya untuk memfasilitasi pembiayaan bagi negara-negara berpendapatan rendah atau berkembang, yang memiliki keterbatasan akses pada pasar.
Di samping itu, arsitektur keuangan global harus beradaptasi untuk memastikan adanya respon yang memadai dan cepat, misalnya dengan peningkatan kapabilitas multilateral, penambahan instrumen baru, serta peningkatan legitimasi untuk melawan stigma utang. Dia berpendapat bahwa saat ini banyak negara mengalami defisit fiskal dan situasi ini harus segera diatasi.
"Saya pikir saat ini banyak negara yang sebagian besar menghadapi defisit fiskal, belum lagi mengenai keseimbangan pembayaran. Tetapi jika hal ini tidak segera diatasi maka situasi fiskal ini akan mempengaruhi sektor keuangan dalam bentuk kredit macet, maka itu dapat menjadi krisis ekonomi dan keuangan yang berbahaya bagi banyak negara di dunia ini," tukasnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya