Sri Mulyani Akui Sulit Menurunkan Defisit Neraca Perdagangan
Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengakui defisit neraca perdagangan RI sejauh ini masih belum bisa diatasi. Salah satunya karena permintaan pada sektor minyak dan gas (migas) setiap tahunnya terlampau tinggi, sehingga mau tidak mau impor di sektor tersebut terus dilakukan.
"Kalau dilihat dari neraca migas yang negatif memang transaksi perdagangan sulit untuk positif," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Gedung DPR Jakarta, Senin (4/11).
Sri Mulyani mengatakan, pemerintah sendiri sudah mengambil langkah untuk menekan defisit neraca perdagangan. Salah satunya menerapkan B20 atau campuran 20 persen minyak sawit pada solar. Namun dia tak menyebutkan berapa besar penerapan B20 untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.
"Penerapan B20 untuk mengatasi ini. Yang lain meningkatkan ekspor di sektor lain," kata dia.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2019 defisit sebesar USD 63,5 juta. Jumlah tersebut disumbang oleh defisit sektor migas sebesar USD 142,4 juta sedangkan sektor non-migas surplus USD 78,9 juta.
"Dengan ekspor sebesar USD 15,45 miliar dan impor USD 15,51 miliar, maka defisit sekitar USD 0,06 miliar atau USD 63,5 juta," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (15/8).
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya