Spekulasi pembelian antv hanya untuk naikkan harga saham VIVA
Merdeka.com - Rencana pembelian saham VIVA grup kembali mencuat. Mandiri Sekuritas melalui akun twitternya kemarin siang berkicau bahwa saham salah satu anak usaha VIVA yakni PT Visi Media Asia atau antv sudah resmi dibeli oleh MNC grup.
Mandiri Sekuritas menulis saham anak usaha emiten grup Bakrie tersebut telah dijual dengan harga USD 500 juta atau setara Rp 4,7 triliun.
Saat dikonfirmasi, kedua perusahaan besar media nasional itu langsung membantah bahwa telah terjadi kesepakatan. Juru bicara MNC grup David Audy menyatakan pernyataan itu hanyalah spekulasi sebagian pelaku pasar. Nominal USD 500 juta itu juga disebut isapan jempol belaka.
"Enggak ada yang perlu dikonfirmasi, itu kan spekulasi berkembang," elaknya singkat saat dihubungi merdeka.com.
Corporate Secretary VIVA Neil Tobing juga mengaku tidak mengetahui kabar tersebut. "Saya saja yang corsec (sekretaris perusahaan) tidak tahu. Saya belum dapat kabar itu," ujar Neil kepada merdeka.com.
Kepala Riset Universal Broker, Satrio Utomo, mengakui rumor ini sebagai salah satu bentuk cara mendongkrak harga saham VIVA grup. Semenjak rencana pembelian ini terungkap, harga saham perusahaan media milik politikus Golkar tersebut terus menanjak.
"Bisa dikatakan rumor ini sebagai usaha goreng-goreng saham VIVA grup," ujarnya pada merdeka.com di Jakarta, Rabu (19/6) malam.
Investor asing, lanjutnya, disinyalir semakin terus tertarik untuk membeli saham VIVA. Entah kebetulan atau tidak, pada penutupan bursa kemarin, Rabu (19/6), harga saham VIVA per lembarnya mengalami penguatan. Sementara saham MNC grup justru terjun tajam.
Harga saham VIVA menguat 10 poin atau 2,50 persen menjadi Rp 410 dari Rp 400 per lembar saham kemarin. Di sisi lain, harga saham MNC grup justru terkoreksi 100 poin atau 3,15 persen menjadi Rp 3.075 dari Rp 3.175 per lembar saham kemarin.
Penguatan saham VIVA ini terjadi setelah sempat jatuh ke titik terendah, selama perusahaan tersebut melantai di bursa, yakni di 12 Juni 2013. Pada hari itu saham VIVA jatuh ke harga Rp 360 dari Rp 470 per lembar saham.
Penguatan akibat rumor bukan terjadi pada kali ini saja. Pada 1 April 2013 juga terjadi penguatan saham VIVA di mana bertepatan dengan pernyataan Hary Tanoesoedibjo dan Chairul Tanjung yang mempertanyakan keseriusan Aburizal Bakrie untuk menjual sahamnya.
Chairul Tanjung, blak-blakan bahwa dia menawar perusahaan tersebut dengan harga USD 1,8 miliar atau Rp 17,5 triliun. Sementara, Hary Tanoesoedibjo dikabarkan telah menawar lebih tinggi yaitu USD 2 miliar atau Rp 19,5 triliun.
Saat itu harga saham VIVA mencapai puncak tertingginya yakni di posisi Rp 670 per lembar saham. (mdk/bmo)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya