Soal kereta cepat, HIPMI nilai Jepang masih kecewa berat
Merdeka.com - Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia menilai Jepang masih kecewa terhadap Indonesia terkait proyek kereta cepat. Kesan itu ditangkapnya seusai menemui sejumlah pejabatan pemerintahan, diplomat, dan asosiasi pengusaha di Negeri Matahari Terbit tersebut.
"Ada kekecewaan yang berat dari pihak Jepang, termasuk pemerintahnya. Itu yang kami tangkap. Makanya kami usul agar presiden memulihkan kepercayaan Jepang dengan merangkul dalam berbagai proyek pembangunan lainnya,” ujar Bahlil dalam keterangan pers, Minggu (21/2).
Menurut Bahlil, awalnya, Jepang yakin bakal terpilih menggarap proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Pasalnya, Jepang telah menjadi mitra strategis Indonesia sejak tahun 1970-an.
"Ini bukan soal hanya persaingan kedua negara, atau persaingan bisnis. Tapi Jepang kan sudah terbukti menjadi mitra strategis Indonesia dalam membangun infrastruktur sejak lama. Bukan ujuk-ujuk datang bawah proposal. Jepang yakin Indonesia teman sejatinya."
Celakanya, pemerintah malah memilih proposal kereta cepat China yang datang belakangan. Saking kecewanya, kata Bahlil, seorang pejabat Jepang sempat menilai Indonesia telah berkhianat terhadap negara telah menjadi mitra sejati selama lebih dari empat dekade.
Bahlil mengatakan, peran Jepang dalam pembangunan perekonomian Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata.
"Salah satu ciri khas investasi Jepang di kita itu dia sifatnya jangka panjang, masuk ke sektor riil, dia berani bangun manufatur otomotif, dan dia masuk dalam labor intensive. Dia serap banyak tenaga kerja. Komitmennya jangka panjang dan memberi nilai tambah pada perekonomian."
Data Hipmi Research Center menunjukkan, pada 2015, Investasi Jepang di Indoneisa naik 130 persen ketimbang tahun sebelumnya sebesar Rp 43,7 triliun.
Tak hanya itu, Jepang merupakan pasar ekspor nonmigas utama Indonesia. Pada Januari 2016, ekspor nonmigas terbesar Indonesia ke Amerika Serikat dengan total USD 1,23 miliar atau 13,10 persen.
Disusul Jepang USD 1,04 miliar atau 11,11 persen, dan Tiongkok USD 886,7 juta atau 9,44 persen. Sedangkan untuk ekspor ke ASEAN sebesar USD 1,92 miliar atau 20,48 persen dan ke Uni Eropa USD 1,16 miliar atau 12,40 persen.
(mdk/yud)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya