Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Siap-Siap Udara Bumi Makin Berpolusi, ini Biang Keroknya

Siap-Siap Udara Bumi Makin Berpolusi, ini Biang Keroknya asap pabrik. ©2012 encognitive.com

Merdeka.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara mengungkapkan, sejumlah dampak buruk akibat perang Rusia dan Ukraina. Salah satunya mendorong penggunaan energi kotor atau tidak ramah lingkungan.

Dia mencontohkan, sejumlah negara di Eropa bersiap untuk kembali mengaktifkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara. Hal ini demi kepentingan masyarakat jelang memasuki musim dingin di tengah pembatasan pengiriman stok minyak mentah dari Rusia.

"Kemudian, Amerika mengatakan saya rilis deh cadangan minyak saya. Cadangan minyaknya kan adalah fossil fuels. Betul kan?," imbuhnya dalam webinar Indonesia Infrastructure Roundtable (IRR), Jakarta, Jumat (8/7).

Selain itu, sejumlah negara juga telah menambah anggaran subsidi dan kompensasi untuk sektor energi seiring meningkatnya harga minyak mentah dunia. Termasuk, Indonesia.

"Apa yang kita lakukan, kita tambah subsidi dan kompensasi untuk energi adalah bentuk survival. Karena, kita ingin melindungi masyarakat," jelasnya.

Oleh karena itu, Suahasil memastikan peningkatan pemanfaatan energi berbasis fosil tersebut hanya bersifat jangka pendek. Komitmen tersebut ditandai dengan fokus pemerintah untuk mempercepat penggunaan transisi energi ramah lingkungan sebagai jarak jangka menengah dan jangka panjang.

"Kita tidak akan melupakan jangka menengah dan panjang. Kita tetap bicara transisi menuju green economic," tutupnya.

Ribuan Orang di Kota Besar Dunia Meninggal karena Polusi Udara

di kota besar dunia meninggal karena polusi udaraRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Polusi udara menyebabkan puluhan ribu kematian di lima kota terpadat di dunia tahun lalu meskipun ada penguncian (lockdown) virus corona, kata para peneliti pada Kamis, seraya mendesak pemerintah membuang bahan bakar fosil dan berinvestasi dalam pemulihan hijau.

Kelompok kampanye lingkungan Greenpeace Asia Tenggara dan perusahaan teknologi kualitas udara IQAir mengukur tingkat polusi di 28 kota - dipilih berdasarkan ketersediaan data dan penyebaran geografis.

Di lima kota terpadat - Delhi, Mexico City, Sao Paulo, Shanghai dan Tokyo - polusi udara menyebabkan sekitar 160.000 kematian dan kerugian ekonomi sekitar 85 miliar dolar (Rp1,1 kuadriliun).

"Beberapa bulan penguncian tidak benar-benar menurunkan rata-rata polusi udara jangka panjang yang telah menerpa orang," kata Aidan Farrow, seorang ilmuwan polusi udara di Laboratorium Penelitian Greenpeace di Universitas Exeter Inggris, seperti dilansir laman Antara mengutip Reuters.

"Agak mengejutkan melihat seberapa banyak gejolak yang terjadi - dan kami masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki polusi udara," katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Polusi udara adalah risiko lingkungan terbesar bagi kesehatan manusia secara global, dan membunuh sekitar 7 juta orang setiap tahun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

WHO mengatakan sembilan dari 10 orang menghirup udara yang tercemar, yang terkait dengan serangan pembuluh darah di otak, kanker paru-paru dan penyakit jantung - dan sekarang sama dengan efek dari merokok, kata para ahli kesehatan.

Masalahnya memengaruhi lebih banyak kota di Asia daripada di mana pun di dunia. Penyebab utamanya termasuk emisi kendaraan, pembangkit listrik tenaga batu bara, konstruksi, festival kembang api, pembukaan hutan, dan pembakaran tanaman, kayu bakar dan limbah.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP