Setelah molor 27 tahun, PLTP Sarulla resmi beroperasi
Merdeka.com - Pemerintah resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla secara bertahap, hari ini. Pembangunan proyek geothermal raksasa itu harus molor hingga hampir tiga dekade lantaran berbagai persoalan.
"Saat ini yang dioperasikan baru unit 1, berkapasitas 110 megawatt," kata Jonan, di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (31/3).
Pada September mendatang, menurut Jonan, pihaknya bakal mengoperasikan PLTP Sarulla unit 2 berkapasitas 110 MW. Selanjutnya, pengoperasian unit 3 sebesar 110 MW pada Mei 2018.
"Jadi total hingga Lebaran tahun depan 330 MW," ujar Jonan.
Sejatinya, pembangunan PLTP Sarulla sudah dimulai pada 1990. Proyek itu harus mangkrak puluhan tahun lamanya lantaran terhambat perizinan dan birokrasi yang berbelit-belit.
Megaproyek geothermal terbesar di dunia ini dikembangkan melalui skema Kontrak Operasi Bersama (KOB) antara PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dengan Sarulla Operation Limited (SOL). Ini Sesuai amandemen kedua KOB dan Energy Sales Contract (ESC) ditandatangani pada 14 April 2013.
SOL merupakan konsorsium yang terdiri dari PT Medco Power Indonesia, Itochu Corporation dan Kyushu Electric Power (Jepang), dan Ormat International (AS).
Direktur Utama Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro menganggap wajar jika proyek PLTP Sarulla molor hingga 27 tahun. Sebab, serupa minyak bumi dan gas, eksplorasi panas juga membutuhkan waktu lama. Setidaknya, sepuluh tahun.
"Kalau memang untuk proyek seperti ini memang kami maklumi dan bukan hal yang aneh," katanya. "Misal proyek gas Senoro, kami beli tahun 2000 dan baru beroperasi di 2015. Jadi butuh 15 tahun untuk mencari sumber daya dan potensinya." (mdk/yud)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya