Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejumlah Solusi Ini Bisa Ditempuh Pemerintah Atasi Kenaikan Harga Kedelai

Sejumlah Solusi Ini Bisa Ditempuh Pemerintah Atasi Kenaikan Harga Kedelai Ilustrasi kacang kedelai. ©Shutterstock/rodho

Merdeka.com - Sudah sebulan fluktuasi harga kedelai terjadi di Tanah Air. Kenaikan harga kedelai yang terjadi setiap hari ini membuat para pengrajin tahu dan tempe terusik. Mereka mulai kesulitan menentukan harga jual kepada konsumen.

Bahkan semakin hari keuntungan selalu berkurang hingga tak lagi bisa mengantongi keuntungan. Sebab hasil penjualan tahu dan tempe hanya cukup untuk membeli bahan baku untuk produksi berikutnya.

Para pengrajin tahu dan tempe di Pulau Jawa pun sepakat mogok produksi. Sehingga dalam 3 hari kedepan, pedagang tahu dan tempe tidak bisa berjualan.

"Rencana mogoknya mulai dari besok hari senin, selasa dan rabu," kata Ketua Pusat Kopti DKI Jakarta, Sytarto saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Minggu (20/2).

Menanggapi itu, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyebut tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga kedelai. Mengingat kedelai merupakan komoditas impor yang harganya ditentukan oleh pasar bebas.

Namun, hal itu tidak berarti pemerintah tidak bisa mengambil tindakan atau mencarikan solusi. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, meminta para importir untuk membuat kontrak kerjasama jangka panjang kepada produsen kedelai di luar negeri. Cara ini dianggap bisa membuat harga kedelai lebih stabil.

"Panggil semua importir kedelai untuk menekan produsen menjadi kontrak jangka panjang sehingga stabilitas harga kedelai ini bisa terjamin," kata dia.

Bhima menyebut, selama ini importir dengan produsen kedelai di luar negeri meneken kerjasama jangka pendek. Akibatnya risiko fluktuasi harga kedelai tidak bisa terhindarkan.

"Jadi jangan hanya kontrak jangka pendek. Kontrak jangka panjang bisa meminimalisir terjadinya fluktuasi harga bahan baku kedelai," sambungnya.

Solusi Lainnya

Solusi lainnya, dengan memberikan subsidi kepada para pengrajin tahu dan tempe. Hal ini sebagai upaya untuk mencegah para pengrajin mogok produksi. Mengingat tahu dan tempe merupakan sumber alternatif protein yang terjangkau bagi masyarakat kelas bawah.

"Berikan mereka subsidi, cari jalan keluarnya kasih subsidi karena tahu tempe ini alternatif protein yang paling terjangkau lapisan masyarakat ke bawah," katanya.

Pemerintah juga harus memastikan agar tidak ada penimbunan atau manipulasi dari importir kedelai. Apalagi dalam beberapa bulan kedepan memasuki momentum bulan puasa dan lebaran.

Kondisi ini bisa diperparah kalau terjadi fluktuasi nilai tukar rupiah. Termasuk juga rencana tapering off di negara maju yang bisa membuat biaya impor meningkat signifikan.

"Sekarang saja, ketika rupiah stabil harga kedelai sudah mahal. Apalagi ketika terjadi lonjakan atau depresiasi nilai tukar rupiah, harga kedelai akan melonjak signifikan. Jadi stabilitas nilai tukar ini juga menentukan stabilitas harga kedelai impor," kata dia mengakhiri.

(mdk/ags)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP