Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sederet Permasalahan Energi di Tanah Air

Sederet Permasalahan Energi di Tanah Air Ilustrasi Migas. shutterstock.com

Merdeka.com - Pemerhati Hukum ESDM, Ahmad Redi menyebut, bahwa Indonesia masih memiliki masalah di bidang kedaulatan energi. Hal ini tercermin dari masih banyak permasalahan atau pekerjaan rumah di sektor energi.

"Ini menjadi problem negara dalam rangka menuju kedaulatan dan kemandirian energi," kata dia dalam diskusi Krisis Energi Melanda Dunia, Bagaimana Strategi RI?, Minggu (10/10).

Dia mengungkapkan, salah satu permasalahan energi di Tanah Air yakni terjadinya penurunan produksi minyak bumi. Di mana setiap hari produksi minyak bumi Indonesia memprihatinkan dan masih menggantungkan diri terhadap impor.

Namun di sisi lain, impor minyak bumi dilakukan oleh pemerintah tidak tertampung di kilang-kilang ada di Indonesia. Mengingat beberapa kilang seperti di Balongan dan Tuban sampai hari ini realisasinya masih belum maksimal. Sehingga tidak bisa menampung minyak bumi dari impor.

"Itu di kilang-kilang itu sudah ada RPJM di mana membangun kilang di Balongan ingin membangun kilang di Tuban. Tapi sampai hari ini realisasi masih belum maksimal. Sejak RPJM setiap lima tahun siapapun presidennya ada rencana itu. Tapi realisasinya itu masih belum maksimal dan nol besar. Ini konteks masalah pertama," jelas dia.

Kemudian masalah kedua adalah pemanfaatan energi domestik yang masih rendah. Padahal di dalam Undang-Undang Energi Ketenagalistrikan diatur bagaimana pemanfaatan energi setempat harus diprioritaskan.

"Regulasi kita mengatakan bahwa pemanfaatan energi setempat itu harus diprioritaskan jadi ketika di daerah tertentu ada akses batubara terhadap gas itu terkendala, harusnya negara dalam konteks kebijakan energi nasional seusai UU Energi itu memanfaatkan energi setempat," ungkapnya.

Masalah ketiga adalah akses dan infrastruktur yang masih terbatas. Kemudian keempat yakni ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM), kelima harga energi belum kompetitif dan subsidi energi tinggi.

"Bagaimana subsidi energi ini menjadi masalah ketika harga Pertalite dinaikan dikit, maka orang-orang akan balik ke Premium. Ini soal politik kebijakan yang justru kemudian bagaimana harga energi kita belum kompetitif," ujarnya.

Dia melanjutkan permasalah lain terhadap energi di Indonesia juga terlihat dari bauran energi masih didominasi minyak bumi, sedangkan energi baru terbarukan (EBT) masih sangat rendah. Serta terakhir mengenai pemanfaatan energi belum efisien.

"Kita paham bahwa negara kita masyarakatnya kesadaran energinya masih rendah. Boros energinya masih tinggi dan ini sebenarnya bahaya dalam jangka lebih panjang perilaku boros energi kesadaran energi tidak baik ini mengancam kedaulatan energi kita," pungkas dia.

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP