Schroder Investment sebut Rupiah sulit untuk menguat
Merdeka.com - PT Schroder Investment Management Indonesia menyatakan saat ini investor atau pelaku pasar asing cenderung menunggu nilai tukar Rupiah stabil. Penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diharapkan dapat membuat hal ini terealisasi.
"Saat ini memang asing lebih menunggu kepastian apakah nilai tukar rupiah kita confident atau tidak ya," tutur Executive Vice President Intermediary Business Perseroan Renny Raharja di Jakarta, Kamis (5/7).
Renny menambahkan kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh BI lebih merupakan upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar bukan untuk penguatan Rupiah.
"Pressure dari kondisi ekonomi global di luar negeri membuat Rupiah sulit untuk menguat. Jadi BI memang mengusahakan Rupiah ini untuk stabil bukan menguat," kata Renny.
India dan Filipina, lanjut Renny, merupakan negara yang paling terperosok tajam untuk dampak kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) pada nilai tukar negara tersebut. Meski begitu, indeks harga saham gabungan di India (IHSG) masih menunjukkan pergerakan yang positif.
"Indonesia memang di atas Filipina dan India. Kita turun (nilai tukar) sebesar 5.71 persen, sedangkan Filipina turun 6.74 persen dan India yang sebesar 7.15 persen," ungkapnya.
Adapun laju IHSG India year-to-date (YTD) positif 3,74 persen, kemudian JCI dan LQ 45 Indonesia turun sebesar 11,40 persen dan 17,92 persen.
"Jadi sebetulnya tahun 2013 dan 2015 Indonesia juga pernah mengalami pelemahan nilai tukar ini, tapi yang membuat tahun ini jadi berbeda karena diikuti harga minyak dunia yang terbilang tinggi," tandas Renny.
Reporter: Bawono Yadika
Sumber: Liputan6
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya