Saingi GrabCar, taksi konvensional perlu tingkatkan teknologi
Merdeka.com - Pakar Hukum dan Regulasi Mohamad Mova Al Afghani menilai perusahaan transportasi konvensional perlu mengkaji kembali model bisnisnya yang masih belum memanfaatkan teknologi. Hal ini untuk bisa menyaingi transportasi berbasis teknologi yang tak bisa ditentang.
"Ya mereka harus merefleksikan diri apakah memang bisnis modelnya itu bisa survive atau tidak di tengah teknologi informasi yang semakin berkembang. Karena tidak selamanya regulasi akan berpihak kepada incumbent," ujar Mova di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (26/3).
Saat ini, perusahaan-perusahaan serta sopir transportasi konvensional mendorong pemerintah untuk menutup paksa layanan transportasi berbasis aplikasi lantaran tidak memenuhi aturan alias ilegal. "Regulasi nanti ini lebih efisien, harga lebih murah misalnya, fee sopir lebih baik, lebih aman, misalnya. Yang sudah ada ini dibahayakan posisinya. Mereka harus revisi bisnis modelnya," kata Mova.
Sementara untuk penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi, Mova meminta agar semakin terbuka dengan regulasi yang diupayakan pemerintah.
"Mereka harus mau diregulasi dan harus percaya pemerintah dan yang paling penting data sharing ke pemerintah. Jadi usulan saya itu self regulation sebenarnya, karena sopir Go-Jek nakal misalnya, itu bisa didisconnect, sopir Uber banyak yang kerja lebih dari 8 jam misalnya, bisa didisconnect, tinggal pemerintah nanti monitoring saja, cuma monitoring itu intinya datanya, kamu kasih itu data yang udah readable yang bisa diolah. Saya kira perusahaan-perusahaan ini juga masih takut beri data ke pemerintah," pungkas dia.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya