Rupiah terpuruk, kedelai impor bakal makin mahal
Merdeka.com - Bangkitnya ekonomi Amerika Serikat, diikuti menguatnya mata uang negara adidaya tersebut. Kembali perkasanya dolar AS menyebabkan mata uang banyak negara di dunia tak berdaya, termasuk Rupiah.
Semakin mahalnya USD, berimbas pada besarnya biaya yang harus dibayarkan untuk impor bahan baku. Termasuk impor kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tempe. Kondisi ini mengancam industri tempe yang umumnya merupakan industri rumahan.
Pemerintah melalui Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengaku punya beberapa strategi agar industri kecil, seperti tempe tidak terpengaruh.
"Tentu kita dengan upaya lain misalnya pasti menjaga stabilitas supply bahan tempe. Karena satu-satunya cara adalah impor. Domestik nggak ada, belum bisa kita kembangin. Yang jelas suplai bahan baku kedelai harus ada di pasar," kata Gobel di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (17/12).
Pemerintah harus mengambil peran untuk menjaga pasokan kedelai impor di pasar domestik. Ini harus dilakukan meski terbentur harga mahal. Rachmat juga melihat perlunya mekanisme pemberian subsidi bagi produsen tempe agar harga tetap stabil di tengah makin mahalnya biaya impor tempe.
"(Subsidi) Saya rasa harus ada karena untuk menjaga stabilitas. Kalau ada yang memang tidak bisa kita hindari ya kita lakukan (subsidi). Kalau ada upaya lain, ya kita lakukan," tutup Rahmat. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya