Rupiah Paling Aman dari Pemalsuan Dibanding Dolar Hingga Euro
Merdeka.com - Direktur Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Yudi Harymukti, menyebut peredaran uang palsu di Indonesia semakin menurun pada 2019 dibandingkan di 2011. Pada 2011, Yudi mengklaim jumlah uang palsu sebanyak 11 lembar dalam rasio 1 juta lembar.
"Di 2019, uang dengan rasio satu juta lembar, hanya ditemukan delapan lembar uang palsu. Menurun sebanyak 3 lembar dari 2011," tegas Yudi saat membuka acara pemusnahan uang palsu di Kantornya, Jakarta, Rabu, (26/2).
Angka ini menempatkan Rupiah menjadi mata uang dengan tingkat kerawanan pemalsuan yang rendah, dibanding mata uang negara lainnya. "Kawasan dunia kita sangat baik, dibanding Dolar Amerika, Poundsterling Inggris, ataupun Euro," ujar Yudi.
Untuk menghindari menjadi korban peredaran uang palsu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk melakukan tindakan preventif sesuai arahan BI melalui program 3D (Dilihat, Diterawang, dan Diraba). "Kami imbau kenali ciri (uang palsu) dengan 3D," bebernya.
Adapun untuk tindakan represif, BI telah bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk aktif menangkap pengedar uang palsu.
UU Pembatasan Transaksi Uang Kartal Tekan Peredaran Uang Palsu
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly mendorong disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembatasan Transaksi Uang Kartal. Salah satu manfaatnya adalah dapat menekan dan memberantas peredaran uang palsu.
"Kita yakin UU ini secara khusus memerangi korupsi, ini sangat penting. Termasuk uang palsu, kalau ini berhasil maka akan dapat menekan (peredaran)," tutur Yasonna di Gedung Pusat Pelaporan Analisi Transaksi Keuangan (PPATK), Jakarta Pusat, Selasa (17/4).
Menurut Yasonna, RUU itu sudah dirancang sejak 2014 lalu dengan melibatkan semua kementerian dan stakeholder terkait, termasuk Bank Indonesia (BI).
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya