Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Rupiah Melemah, Mendag Zulhas Pastikan Harga Kedelai dan Gandum Tak Naik

Rupiah Melemah, Mendag Zulhas Pastikan Harga Kedelai dan Gandum Tak Naik Mendag Zulkifli Hasan. istimewa ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan meyakini pelemahan nilai tukar (kurs) Rupiah tak akan mengganggu harga di dalam negeri, terutama pangan yang masih diimpor seperti gandum dan kedelai. Menurutnya, kedua komoditas itu sudah melewati harga tertingginya beberapa bulan lalu.

"Memang kita sudah melewati harga naik, misalnya gandum, kedelai, itu kan pesanan bulan Juli, Agustus datangnya sekarang, makanya harganya naik. Tapi yang pesanan sekarang itu harganya sudah turun, sudah panen raya. Saya kira harga akan stabil, tetapi kalau kedelai ada pun harga yang tinggi itu kita subsidi Rp 1.000 per kilogram," kata dia saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Selasa (11/10).

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga optimis pelemahan rupiah tak akan terlalu mengganggu kinerja neraca perdagangan. Meski perang antara Rusia dan Ukraina akan memberikan dampak, namun kinerja neraca perdagangan akan tetap baik.

"Nah saya tahu bahwa kondisi global mulai dari pasokan pangan, energi, konflik Ukraina dengan Rusia, dan lain-lain itu mungkin akan ada banyak dinamika dan impact. Tetapi kami optimis sekali lagi kinerja perdagangan itu akan terus naik," tuturnya.

Kendati begitu, ia tak merinci komoditas apa saja yang menjadi andalan di saat ini. Menurut catatan, komoditas energi seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) selalu menjadi andalan ekspor Indonesia.

"Kami optimis lah, ditengah banyak situasi global yang tidak pasti, tapi kita harus optimis karena kita harus tunjukkan kinerja perdagangan itu membaik," bebernya.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah, masih tertekan ekspektasi pengetatan moneter yang agresif oleh bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed). Rupiah melemah 13 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp15.331 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.318 per USD.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, rupiah masih berpeluang tertekan hari ini terhadap dolar AS.

"Faktor-faktor yang menekan rupiah masih sama seperti kemarin yaitu ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS yang agresif hingga akhir tahun ini karena bank sentral AS lebih memprioritaskan pengendalian inflasi dibandingkan pertumbuhan ekonomi," ujar Ariston dikutip Antara, Selasa (11/10).

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP