Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Rupiah Kembali Melemah ke Rp14.374/USD Akibat Kekhawatiran Virus Corona

Rupiah Kembali Melemah ke Rp14.374/USD Akibat Kekhawatiran Virus Corona Rupiah. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali melemah di perdagangan hari ini, Rabu (11/3). Hingga sore ini, Rupiah ditutup di level Rp14.374 per USD atau melemah dibanding pembukaan perdagangan tadi pagi di Rp14.305 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah sore ini juga melemah dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di Rp14.351 per USD.

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, upaya pemerintahan negara maju yang kemarin hampir serentak mengumumkan rencana stimulus, telah membantu meningkatkan minat pasar terhadap resiko.

"Tapi pasar keuangan masih volatil, kekhawatiran terhadap corona masih besar. Bila ekspektasi pasar terhadap stimulus tidak terpenuhi, sentimen negatif kembali masuk ke pasar keuangan," ujar Ariston.

Pemerintah Jepang akan memberikan stimulus sebesar 430,8 miliar yen atau sekitar Rp58,8 triliun untuk mengatasi dampak wabah COVID-19.

Selain itu, bank sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ) juga aktif melakukan pembelian obligasi di pasar.

Dari dalam negeri, para pelaku pasar tengah menunggu stimulus yang akan diberikan oleh pemerintah guna mendorong ekonomi setelah adanya wabah COVID-19. Salah satu stimulus yang ditunggu adalah apakah akan ada pemotongan pajak PPh 21, 22 dan 25.

Ekonomi Global Diprediksi Tumbuh 2,7 Persen

diprediksi tumbuh 27 persen rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Bank Indonesia (BI) kembali melakukan revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2020. Perubahan tersebut dilakukan lantaran efek virus corona terhadap perekonomian baik di skala global maupun nasional semakin terasa.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan, pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini akan menurun hingga 2,7 persen, turun dibanding hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Februari 2020 lalu, yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini berada pada kisaran 3.0-3,1 persen.

"Tapi memang nampaknya pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini akan lebih rendah dari 3 persen. Mungkin 2,8 sampai 2,7 persen, karena memang ada gangguan global supply chain dan gangguan ekonomi di negara-negara maju seperti Amerika (Serikat)," jelasnya dalam acara Forum Diskusi Infobank di Pullman Hotel, Jakarta, Rabu (11/3).

Sedangkan pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dia menyebutkan pemerintah masih bisa mempertahankannya di kisaran 5,0-5,4 persen. Angka tersebut masih sama seperti hasil RDG pada Februari lalu.

Menindaki situasi ini, pemerintah akan bergotong royong untuk melakukan collective action. Dia mengajak pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk sama-sama bergerak menangkal corona dan itu membangun kepercayaan diri bahwa Indonesia mampu mengatasinya.

"Kita harus looking for new source economy growth. Jangan hanya andalkan CPO (Crude Palm Oil/minyak sawit mentah). Kalau dulu jualan nikel sekarang harus hilirisasi," imbuhnya.

"Banyak yang bisa kita eksplor. Pariwisata, UMKM, maritim. We have to learn," dia menandaskan.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP