Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Rizal Ramli bongkar hitungan biaya pengembangan Blok Masela

Rizal Ramli bongkar hitungan biaya pengembangan Blok Masela Rizal Ramli. ©2015 Merdeka.com/efrimal bahri

Merdeka.com - Menteri Koordiantor bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli menyebut, pemanfaatan lapangan gas Blok Masela harus memperhatikan kepentingan daerah sekitar ladang gas khususnya, dan kawasan Indonesia Timur umumnya.

Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo agar pemanfaatan gas bumi tidak hanya dijadikan sumber pemasukan dalam bentuk devisa melainkan juga harus dilihat sebagai sarana penggerak ekonomi, baik secara nasional maupun, terutama di daerah sekitar lokasi ladang gas.

"Saya yakin pemanfaatan ladang gas abadi Masela akan memperhatikan dampaknya pada pembangunan ekonomi kawasan Indonesia Timur, khususnya Maluku dan sekitarnya. Ini juga harus mampu memberi multiplier effect seluas-luasnya, baik dalam hal penyerapan tenaga kerja, penyerapan tingkat kandungan lokal, transfer teknologi, maupun pembangunan industri petrokimia dan lainnya," kata Rizal dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (25/1).

Rizal juga mengungkapkan jika kilang Onshore lebih murah dibanding Offshore. Sayangnya masih banyak pihak yang berspekulasi biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun blok abadi ini.

"Pihak-pihak itu, dengan segala sumber daya yang dimiliki, menyatakan bahwa biaya pembangunan kilang apung (FLNG) hanya USD 14,8 miliar. Sementara itu, biaya untuk pembangunan kilang darat mencapai USD 19,3 miliar," ujarnya.

"Namun, apakah angka-angka ini valid? Dari mana mereka bisa menyorongkan angka-angka tersebut? Faktanya, teknologi kilang apung hingga kini belum proven. Di dunia baru satu proyek pembangunannya, yaitu kilang apung Prelude, Australia, itu pun dengan kapasitas hanya 3,6 juta ton/tahun. Jumlah ini jauh lebih kecil daripada Masela yang mencapai 7,5 juta ton/tahun," tambahnya.

Rizal menyebut, banyak pihak yang berusaha menimbulkan kesan biaya pembangunan kilang apung lebih murah dari yang sebenarnya. Sebaliknya, pembuatan kilang darat dibuat seolah-olah lebih mahal.

"Caranya, pada hitung-hitungan biaya FLNG Plant, mereka mengkonversi ke dalam dolar Australia, yaitu sebesar USD 2,65 miliar/mtpa. Sedangkan untuk onshore, mereka menggunakan denominasi dolar Amerika yang sebesar USD 3,5 miliar/mtpa. Dengan cara ini, maka wajar jika biaya kilang darat seolah-olah menjadi lebih mahal daripada kilang apung," jelasnya.

Padahal, kata Rizal, jika dikalkulasi dengan menggunakan asumsi biaya riil pembangunan kilang FLNG Prelude yang USD 3,5 miliar/mtpa, maka perkiraan pembangunan floating LNG (kapal apung) Masela mencapai USD 22 miliar. Sebaliknya, berbekal asumsi biaya riil sejumlah kilang LNG darat yang ada (Arun, Bontang, Tangguh, dan Donggi), perkiraan biaya LNG darat Masela di Pulau Selaru (sekitar 90 km dari blok Masela) hanya USD 16 miliar.

"Jumlah ini sudah termasuk biaya pembangunan jalur pipa," katanya singkat.

Kendati demikian, ada satu hal yang harus disadari pemerintah bahwa pada akhirnya semua biaya tersebut akan dibayar negara melalui mekanisme cost recovery. Hal ini jelas memberi kepastian jika keputusan ada di tangan negara untuk memilih membangun kilang Onshore ataupun Offshore.

"Berbeda halnya bila seluruh biaya murni menjadi tanggung jawab kontraktor, maka perdebatan soal pilihan pembangunan kilang darat atau apung masih terbuka lebar," tukasnya. (mdk/idr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP