Riset: Dari 71 Persen Orang Ingin Beli Rumah, Hanya 27 Persen Capai Target
Merdeka.com - Mencari rumah, apalagi rumah pertama tidak bisa dianggap enteng. Ini merupakan salah satu keputusan terbesar seseorang dalam hidup, sekaligus juga sering dilihat sebagai puncak pencapaian seseorang. Perjalanan mencari rumah bisa terasa menakutkan, membuat para pencari rumah merasa bingung, ragu, dan tidak tahu harus mulai dari mana.
Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2022 menemukan bahwa 71 persen orang Indonesia sebenarnya ingin membeli rumah, tetapi hanya 27 persen responden saja yang sudah merasa setengah jalan menuju target yang dituju. Data pemerintah sendiri memperkirakan backlog perumahan masih mencapai 12,75 juta unit.
Country Manager Rumah.com, Marine Novita mengakui bahwa perjalanan mencari rumah tidaklah mudah. Marine menjelaskan, tantangan pencari rumah memang bermacam-macam. Beberapa orang memiliki pinjaman lain yang harus dilunasi, ada juga yang pendapatannya bergantung pada komisi penjualan. Berbagai situasi ini mungkin membuat para pencari rumah merasa bingung, kurang percaya diri, dan merasa tidak berbuat apa-apa.
"Tetapi dengan analisa keuangan rumah tangga, serta pengetahuan tentang cara kerja bank dalam memberi pinjaman, kita optimis bahwa setiap orang bisa memulai langkah mereka menuju rumah idaman," kata Marine di Jakarta, Senin (23/5).
Melihat fakta ini, pihaknya kini mempunyai program pemberdayaan untuk membantu pencari rumah yang terpilih untuk mendapat dukungan berbagai sumber daya berupa kepakaran dan jaringan konsultan properti. Program ini didokumentasikan menjadi sebuah reality show yang bisa diikuti di media sosial untuk menginspirasi para pencari rumah di Indonesia.
Program ini menghadirkan kisah Ibu Erna, seorang ibu tunggal yang sangat ingin 3 anaknya bisa tinggal di rumah milik mereka sendiri. Kisah lainnya adalah Pak Arnold dan istrinya yang bertahun-tahun telah bekerja keras dari satu kota ke kota lain. Mereka kini ingin menetap sedekat mungkin dari sekolah sang buah hati yang memasuki jenjang SD.
"Rumah.com memanfaatkan jaringan luas dari 12.500 agen properti dan menunjuk dua spesialis area untuk membantu Ibu Erna dan Pak Arnold menemukan kandidat rumah yang memenuhi kriteria mereka. Pakar hukum dan perencanaan keuangan dari halaman Tanya Rumah.com juga ditunjuk untuk membantu Ibu Erna dan Pak Arnold," kata Marine.
Upaya PUPR Kurangi Backlog Perumahan
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berupaya mengatasi kekurangan perumahan (backlog) dan mendorong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah layak huni. Salah satunya dengan melakukan inovasi penyediaan hunian layak bagi MBR berpendapatan tidak tetap atau informal.
Backlog kepemilikan perumahan saat ini mencapai 11 juta dan backlog keterhunian mencapai 7,6 juta. Dari 93 persen backlog kepemilikan perumahan sebagian besar merupakan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sejumlah 33 prsen dan masyarakat miskin sejumlah 60 persen, dan seluruhnya didominasi oleh segmen MBR informal.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan Kementerian PUPR mendorong masyarakat khususnya MBR untuk memiliki hunian layak.
"Pemerintah berkomitmen untuk memberikan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Kami harapkan dapat meningkatkan kualitas hidup para penerima bantuan dengan memiliki rumah yang lebih layak, sehat dan nyaman," kata Menteri Basuki dikutip dari laman Kementerian PUPR.
Untuk menyediakan rumah bagi para MBR informal Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Perumahan menyelenggarakan kegiatan Aspiration Gathering Kajian Ekosistem Perumahan & Grand Design Segmen MBR Informal beberapa waktu lalu.
"Dalam penyediaan perumahan bagi MBR informal perlu dilakukan pemetaan yang lebih detail untuk mengetahui seberapa besar resiko yang didapatkan ketika memberikan pembiayaan terhadap perumahan mereka," ujar Direktur Jenderal Perumahan Iwan Suprijanto.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya