Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Revitalisasi Pabrik Bisa Jadi Solusi Kurangi Impor Gula

Revitalisasi Pabrik Bisa Jadi Solusi Kurangi Impor Gula Pabrik Gula. ©2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Pengamat Ekonomi, Faisal Basri, mengatakan saat ini impor gula Indonesia menjadi yang terbesar di dunia. Padahal saat masa penjajahan Belanda, Indonesia merupakan negara utama pengekspor komoditas tersebut.

Dia menjelaskan, sebelumnya Indonesia hanya berada di urutan ke-3 negara pengimpor gula. Namun kini Indonesia telah menempati urutan pertama.

Anggota Komisi VI DPR, Inas Zubir mengingatkan pentingnya revitalisasi pabrik dengan menggunakan mesin modern agar produksi gula dalam negeri menjadi lebih stabil dan impor makin berkurang.

Meski demikian, persoalan utama dalam pengadaan gula domestik bukan hanya pabrik gula yang tua, namun juga kestabilan produksi tebu karena makin berkurangnya lahan.

"Banyak lahan tebu berubah menjadi area bisnis bahkan perumahan. Ini adalah dampak dari otonomi daerah. Pemerintah Daerah mengubah lahan pertanian tebu menjadi fungsi lain," katanya seperti dikutip dari Antara, Rabu (16/1).

Selama ini, masyarakat lebih menyukai gula impor yang harganya lebih murah karena harga gula dalam negeri lebih mahal dua sampai tiga kali lipat.

Pengamat Ekonomi Revrisond Baswir mengatakan, revitalisasi pabrik gula secara menyeluruh memang penting dilakukan agar kualitas gula dihasilkan lebih baik. "Revitalisasi pabrik kelihatan setengah hati, seharusnya revitalisasi menyeluruh," kata Revrisond.

Revrisond menjelaskan, pabrik gula yang sudah tua dan tidak lagi efisien menghasilkan gula dalam negeri yang mahal dan harganya lebih tinggi dari gula impor.

Namun, dia mengakui revitalisasi pabrik gula masih sulit dilakukan karena penanam modal ragu melihat produksi tebu nasional yang belum mencukupi untuk kebutuhan pabrik gula. "Selama ini lahan tebu masih bercampur-campur, karena jarang lahan tebu saja tanpa ditanami apa-apa lagi," ujar pengajar Universitas Gadjah Mada ini.

Selain itu, perluasan lahan tidak mudah dilakukan karena perubahan peruntukkan lahan pertanian masih menjadi kendala dan belum ada upaya serius untuk membenahi masalah ini.

Berdasarkan data Statistik, impor gula Indonesia mencapai 4,45 juta ton untuk periode 2017/2018 atau lebih tinggi dibandingkan China sebesar 4,2 juta ton dan AS sebanyak 3,11 juta ton.

Kementerian Perindustrian memproyeksikan kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi naik sebesar 5-6 persen per tahun. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang mampu di atas 7 persen per tahun.

"Pada periode Januari-September 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 9,74 persen, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I tahun 2018. Kami pun memproyeksikan pertumbuhan kedua sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada tahun 2019," kata Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono.

Sigit menjelaskan, kinerja positif yang akan dicatatkan industri makanan dan minuman di tahun politik ini karena adanya kegiatan Pileg dan Pilpres serentak pada 17 April 2019. Momentum ini dinilai bakal membuat lonjakan terhadap konsumsi produk makanan dan minuman.

"Sementara itu, kami perkirakan pertumbuhan industri farmasi mampu menembus level 7-10 persen di tahun 2019. Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)," katanya.

Program JKN itu masih menjadi magnet bagi investor untuk ekspansi, karena dapat meningkatkan permintaan di pasar domestik. Untuk itu, dalam menjaga keberlanjutan produktivitas di sektor industri, Kemenperin terus berupaya memastikan ketersediaan bahan baku.

Selama ini, aktivitas manufaktur konsisten memberikan efek berantai bagi perekonomian nasional, di antaranya melalui peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.

"Salah satunya adalah kebutuhan GKR. Pada tahun 2018, realisasi penyaluran GKR untuk industri makanan dan minuman, serta farmasi sebesar 3,0 juta ton, yang dipenuhi oleh pabrik GKR yang mengolah gula mentah (raw sugar/RS) impor sebesar 3,2 jt ton," kata Sigit.

Menurutnya, rekomendasi impor yang dikeluarkan Kemenperin berupa impor gula mentah diberikan kepada industri yang mengolah gula mentah menjadi GKR untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman, serta farmasi.

Lebih lanjut, impor gula mentah yang akan diolah menjadi GKR dalam rangka memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman hanya 2,8 juta ton pada tahun 2019, turun sekitar 12,5 persen dibandingkan tahun 2018 walaupun pertumbuhan industri makanan dan minuman di tahun ini diprediksi tetap naik di atas 8 persen.

"Impor gula mentah selama ini didatangkan dari India, Thailand, Australia, dan Brasil," katanya.

Sigit menambahkan, pemerintah berupaya menekan volume impor dengan menggenjot investasi industri gula terintegrasi dengan kebun. Saat ini, sudah ada tiga investor yang menyatakan berkomitmen berinvestasi di sektor ini.

"Pabrik gula terintegrasi yang selesai baru satu dari tiga yang saat ini sedang melakukan investasi," katanya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP