Revisi DMO dikhawatirkan ganggu keandalan pasokan listrik PLN
Merdeka.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkhawatirkan pasokan listrik akan terganggu jika kebijakan harga batubara dan alokasi khusus dalam negeri (domestic market obligation/DMO) dicabut. Jika rencana tersebut diterapkan maka akan memberatkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) selaku badan usaha tunggal yang mengurusi kelistrikan di Indonesia
Ketua Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, pemerintah telah memutuskan tarif listrik tidak naik sampai 2019, untuk meredam kenaikan biaya pokok produksi listrik dari pembangkit agar tarif tidak naik, pemerintah menetapkan harga batubara khusus kelistrikan dipatok tertinggi USD 70 per ton.
"Untuk menyalakan pembangkit butuh energi primer, saat ini 60 persen pembangkit menggunakan batubara, kalau saat ini diberikan USD 70 per ton, itu sebenarnya kebijakan jalan tengah meski tidak begitu bagus tapi jalan tengah," kata Tulus, dalam sebuah diskusi di Kawasan Cikini, Jakarta, Selasa (31/7).
Namun saat ini pemerintah berencana untuk mengganti kebijakan harga batubara khusus sektor kelistrikan. Tulus memandang PLN akan kembali membeli batubara dengan harga pasar yang saat ini sedang melambung. "Kalau DMO diganggu akan ganggu PLN, akan berdarah-darah," ujar Tulus.
Menurut Tulus, keuangan PLN akan terganggu karena tarif listrik tidak naik sementara harga produksinya naik. Maka perusahaan tersebut akan mengurangi investasi pembangunan dan perawatan infrastruktur kelistrikan.
"Maka PLN akan kurangi biaya investasi pemeliharaan, pemerintah sudah menyandera tidak naik tarif, tapi hulunya dipangkas PLN akan mengurangi biaya investasi," tuturnya.
Tulus melanjutkan, jika PLN mengalami kesulitan dalam berinvestasi dan perawatan infrastruktur kelistrikan, maka keandalan pasokan listrik akan menurun sehingga berujung pada pemadaman listrik di tingkat konsumen.
"Keandalan terganggu akhirnya byar pet terjadi. Ok pemerintah bangga PLN telah membangun pembangkit 35.000 MW, tapi keandalannya belum teruji, fenomena byar pet bisa terjadi lagi," tandasnya.
Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono
Sumber: Liputan6
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya