Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

PTDI targetkan jual 200 pesawat Nurtanio ke seluruh dunia

PTDI targetkan jual 200 pesawat Nurtanio ke seluruh dunia Pesawat n219 Nurtanio. ©2017 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Pesawat Nurtanio (N219) menyasar pasar kawasan Amerika Latin, Afrika, dan sejumlah wilayah Asia. Diprediksi kebutuhan dunia pada pesawat dengan jenis serupa seperti N219 sebanyak 2.000 unit.

Kepala Divisi Penjualan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Ade Yuyu Wahyuna, mengatakan karakteristik N219 memang diciptakan untuk beroperasi di bandara kecil yang wilayahnya berbukit.

"Dari prediksi 2.000 kebutuhan dari pesawat sejenis, N219 ditargetkan mampu memenuhi 200 diantaranya," katanya di Bandung, Jumat (2/2).

Dia mencontohkan, dari 394 kebutuhan pesawat perintis di Amerika Latin, PT Dirgantara Indonesia menargetkan mampu menjual empat unit.

Di kawasan Afrika, pihaknya memprediksi kebutuhannya mencapai 370 unit dan menargetkan bisa menjual tujuh unit. Di Asia ditargetkan bisa terjual dua unit dari 55 kebutuhan. Sementara, di dalam negeri sendiri, PTDI menargetkan menjual lima dari 96 kebutuhan pesawat.

"Kapasitas produksinya juga bisa terus meningkat. Ke depan, PTDI berencana membuat 50 unit setiap tahunnya."

Adapun hambatan dari rencana tersebut ialah dari segi harga. N219 diakui masih mahal dibandingkan pesaingnya. Satu unit N219 dijual dengan USD 6 juta.

Harga jual yang lebih mahal itu disebabkan regulasi yang diterapkan pemerintah di dalam negeri. Jika menjual produksi, PT Dirgantara Indonesia akan dikenai banyak pajak oleh pemerintah. Sementara pesawat dari luar masuk ke Indonesia, bebas dari hal-hal yang memberatkan seperti cukai dan lain-lain.

"Seharusnya sebagai kawasan berikat, PT Dirgantara Indonesia harus dibebaskan dari hal-hal seperti itu. Selain itu, kami belum memeroleh pembiayaan bank yang maksimal terkait pemasaran hasil karyanya itu," ucapnya.

"Kita sekarang bicara di eximbank atau LPEI, dengan bank untuk bikin pembicaraan sindikasi bank. Bukan sekedar komersialisasi menjual, tapi memroduksi," katanya.

Bantuan semua elemen dalam negeri ini, lanjutnya, sangat diperlukan karena sekarang pihaknya tengah gencar merambah bisnis pesawat komersial. Selama ini, pihaknya hanya berkonsentrasi memenuhi kebutuhan militer. "Bagaimana pun perusahaan tidak sustain kalau dari militer," katanya.

Selain itu, pesawat Nurtanio masih membutuhkan waktu yang panjang untuk melengkapi persyaratan sertifikasi. Sejauh ini, pesawat berwarna putih itu masih membukukan 17 jam terbang dari 300 jam yang disyaratkan.

Tenaga Ahli PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana mengatakan, 17 jam terbang itu ditempuh dari 15 kali uji terbang yang dilakukan PTDI di sekitar landasan Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung.

Untuk mecapai jam terbang yang disyaratkan, PTDI akan membuat prototype pesawat N219 lain. Pihaknya menargetkan jam terbang pesawat karya anak bangsa itu bisa terpenuhi di 2018.

Saat ini, pembuatan prototype masih berjalan dan direncanakan bisa rampung di Februari ini. "Jadi nantinya jam terbang dibagi dua agar lebih cepat," ungkap dia.

Dia menjelaskan, proses sertifikasi tak hanya meliputi uji terbang 300 jam, namun harus memenuhi pula aspek keselamatan. Jadi, jika ada yang kurang baik, maka harus diperbaiki.

Sejauh ini, dukungan pemerintah cukup besar dalam mempercepat proses sertifikasi pesawat perintis tersebut. Tim dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub terus mengawal proses sertifikasi.

"Mereka mendampingi kami siang dan malam untuk mempercepat proses sertifikasi ini," pungkasnya.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP