Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Prokes Mulai Longgar, ini Dampak Berbahayanya Jika Terjadi Gelombang Ketiga Covid-19

Prokes Mulai Longgar, ini Dampak Berbahayanya Jika Terjadi Gelombang Ketiga Covid-19 Suasana Senayan City Saat Anak 12 Tahun Diizinkan Masuk. ©2021 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Indonesia baru saja berhasil menangani pandemi Covid-19 varian delta yang disebut-sebut sebagai gelombang kedua penyebaran virus asal Wuhan, China. Berbagai pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pun telah dilakukan pemerintah secara berkala di seluruh wilayah.

Hal ini pun berdampak pada mobilitas masyarakat yang kembali aktif beraktivitas di luar rumah. Sejumlah tempat perbelanjaan, ritel hingga kafe sudah mulai banyak dikunjungi masyarakat di Jakarta.

Sayangnya pantauan merdeka.com, pelonggaran aktivitas ini tidak dibarengi penerapan protokol kesehatan yang baik. Bahkan cenderung abai dengan melepas masker saat di tempat keramaian dan tidak digunakannya aplikasi PeduliLindungi yang menjadi salah satu syarat dibukanya kembali tempat usaha.

Akibatnya tentu resiko terjadinya gelombang ketiga bisa muncul, mengancam proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Imbasnya, melemahnya belanja konsumsi masyarakat bisa kembali terjadi seperti pada periode Juli-Agustus lalu.

"Efek dari gelombang ketiga ini bisa menahan laju pemulihan ekonomi, dampaknya bisa kembali macet belanja masyarakat seperti peride Juli-Agustus" kata Direktur Celios, Bhima Yudhistira di Jakarta, Sabtu (23/10).

Dari sisi konsumsi, Bhima menilai masyarakat kelas menengah kemungkinan akan kembali menahan diri untuk konsumsi. Mereka akan kembali menyimpan dananya dan menabung lebih banyak.

"Untuk konsumen pengeluaran 20 persen teratas mungkin tinggal tahan belanja dan menabung lebih banyak," kata dia.

Sebaliknya, bagi kelompok masyarakat bawah, akan kembali terpuruk. Ancaman terjadinya lonjakan kasus mengartikan kelompok rentan harus bersiap-siap dengan resiko peningkatan pengangguran.

"Tapi bagi 40 persen kelompok terbawah harus bersiap siap karena lonjakan pengangguran dan orang miskin pasti terjadi," kata dia.

Adanya gelombang ketiga juga akan membuat pemerintah kembali membatasi pergerakan masyarakat. Sehingga perekonomian akan kembali melambat. Dari sisi pelaku usaha ancaman ini juga menimbulkan ketidakpastian. Pengusaha akan lelah karena kebijakan pemerintah harus buka-tutup tempat usaha.

"Pelaku usaha juga sudah capek ya ada buka tutup terus terusan. Ini buat ketidakpastian tinggi, misalnya mau pesan bahan baku lebih banyak tapi prediksi ada gelombang ketiga jadi di cancel rencana menaikan produksinya," kata dia.

Begitu juga dengan kondisi di sektor usaha ritel yang ikut terdampak. "Ada juga kasus dimana pengusaha retail siap siap rekrut pegawai baru jadi tertunda lagi," sambung dia.

Kemenkes Sebut Gelombang Ketiga Covid-19 Keniscayaan, Ini 4 Penyebabnya

gelombang ketiga covid 19 keniscayaan ini 4 penyebabnya rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan gelombang ketiga Covid-19 merupakan sebuah keniscayaan. Prediksi sejumlah epidemiologi, gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia akan terjadi sejak Desember 2020 hingga Januari 2021.

Menurut Nadia, ada empat hal yang bisa memicu gelombang ketiga Covid-19. Pertama, pola penyebaran Covid-19 yang bersifat fluktuatif tergantung pergerakan masyarakat.

"Salah satu publikasi ilmiah mengatakan pola penyakit Covid-19 ini akan menimbulkan beberapa gelombang. Jadi dia tidak akan cukup dengan satu puncak gelombang, kemudian turun," kata Nadia dalam dialog vaksin untuk semua umur disiarkan melalui YouTube FMB9ID_IKP, Kamis (21/10).

Hal kedua yang bisa menimbulkan gelombang ketiga Covid-19 adalah vaksinasi. Menurut Nadia, sejumlah negara di dunia dengan cakupan vaksinasi tinggi saja masih menghadapi gelombang ketiga Covid-19, seperti Inggris, Amerika, hingga Israel.

Sementara Indonesia, data hari ini pukul 18.00 WIB, vaksinasi dosis satu mencapai 53,26 persen dan dosis kedua atau lengkap baru 31,50 persen.

Penyebab ketiga ialah varian Delta yang masih mendominasi di Indonesia. Data Badan Litbangkes Kementerian Kesehaan 16 Oktober 2021, total kasus Delta di Indonesia mencapai 4.025, kasus Alpha 68, dan kasus Beta 22.

"Kita tahu varian Delta ini adalah varian yang merupakan sangat ganas dan sifatnya sangat infeksius. Jadi dia akan cepat menyebar dan menunggu kapan kita lengah sehingga dia menimbulkan penyebaran yang luas di masyarakat yang berakibat pada peningkatan kasus," ujar dia.

Pemicu keempat adalah mobilitas penduduk menjelang akhir tahun 2020 hingga awal tahun 2021. Nadia mencatat, ada banyak perayaan keagamaan menjelang akhir tahun 2020 yang bisa meningkatkan mobilitas masyarakat, ditambah perayaan tahun baru 2021.

"Nah potensi empat hal ini yang menyebabkan keniscayaan akan gelombang ketiga itu pasti terjadi," kata dia.

Pemerintah, lanjut Nadia, terus mengingatkan masyarakat bahwa pandemi Covid-19 belum selesai. Penurunan kasus yang terjadi saat ini bukan berarti Indonesia sudah memenangkan peperangan melawan Covid-19.

"Kita harus tetap waspada sambil menunggu vaksinasi pada seluruh sasaran 208 juta itu juga mendapatkan vaksinasi lengkap dosis 1, dosis 2. Pada kondisi itulah baru kita akan betul-betul full relaksasi, tetapi tetap waspada," tandasnya.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP