Produksi plastik mudah terurai RI ditargetkan capai 10 kali lipat dalam 2 tahun
Merdeka.com - Kementerian Perindustrian terus memacu peningkatan produksi biodegradable plastic (plastik mudah terurai). Produksi plastik ramah lingkungan ini ditargetkan hingga lima persen dari jumlah kapasitas nasional saat ini sebesar 200 ribu ton per tahun untuk menggantikan plastik konvensional yang tidak ramah lingkungan.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, hal ini sebagai komitmen Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Upaya ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pelestarian lingkungan hidup.
"Kalau bisa, dalam waktu dua tahun ini, produknya 10 kali lipat makin banyak. Jadi, tidak hanya menggantikan untuk shopping bag tetapi juga packaging secara keseluruhan, dan tidak hanya di pasar modern tetapi juga tradisional, ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (26/6).
"Sementara itu, konsumsi plastik di Indonesia mencapai lima juta ton per tahun, dan baru 50 persen yang bisa dipenuhi dari industri dalam negeri," lanjut dia.
Terlebih lagi, kata Ketua Umum Partai Golkar ini, Pemerintah Indonesia tengah gencar mendorong konsep ekonomi sirkular dengan prinsip yang dikenal sebagai 5R. Prinsip ini antara lain dilakukan melalui reduce atau pengurangan pemakaian material mentah dari alam.
Selain itu, juga melalui prinsip reuse atau optimasi penggunaan material yang dapat digunakan kembali, daur ulang (recycle), perolehan kembali (recovery), dan perbaikan (repair). Melalui prinsip-prinsip tersebut ekstraksi material mentah dari alam jauh lebih efektif dan efisien. Selain itu limbah juga dapat dikurangi.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup (Puslitbang IHLH) Kemenperin, Teddy Caster Sianturi, menambahkan, plastik merupakan hasil revolusi industri yang memegang peranan penting dalam merevolusi hidup manusia.
"Plastik berperan dalam segala bidang mulai dari otomotif, elektronika, pangan, dan masih banyak lagi," ujarnya.
Oleh karena itu, kata Teddy, salah jika mengatakan bye bye plastic, karena yang diperlukan adalah bagaimana memanajemen sampah plastik. "Membakar plastik adalah tindakan yang salah. Pembakaran plastik malah bisa menimbulkan senyawa dioksin dan furan yang sangat berbahaya bagi kesehatan," tandasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya