PLN Harus Evaluasi Sistem Jaringan
Merdeka.com - Pemadaman listrik massal yang terjadi pada Minggu (4/8) sangat merugikan masyarakat. Listrik mulai padam sejak pukul 11.48 WIB dan baru kembali pulih sekitar pukul 21.00 WIB. Kejadian ini berlangsung selama sembilan jam.
Pemadaman listrik massal tersebut disebabkan karena PLTU Suralaya sempat tidak aktif akibat lepasnya pasokan listrik. Hal tersebut sebabkan adanya proses cold start atau memanaskan lagi mesin. Proses ini pun membutuhkan waktu yang lama.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati menyarankan PLN untuk memperbaiki sistem jaringannya agar lebih maksimal lagi. Menurutnya, jaringan PLN tidak boleh terpusat. Apabila satu jaringan listrik ini terpusat koneksinya, dampak akan meluas ke seluruh wilayah.
"Kalau pusat mati, dampaknya jadi ke semua. Jaringan ke depannya tidak boleh terpusat di satu kawasan yang luas. Jadi, ada pembagian per blok. Kalau ada satu blok yang padam, tidak akan memengaruhi ke beberapa wilayah," ujar Enny saat dihubungi Merdeka.com di Jakarta, Senin (5/80.
Enny menyebut bahwa kejadian pemadaman listrik berdampak tak ternilai. Pasalnya tidak hanya merugikan masyarakat secara ekonomi, tetapi juga secara sosial. Akibatnya, banyak aktivitas masyarakat yang terganggu.
"Tidak hanya kompensasi, tidak hanya menghitung kerugian ekonomi semata. Ini sektor yang vital karena berhubungan dengan aktivitas semua warga. Ini kerugian sosial dampaknya," imbuhnya.
Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) mengharapkan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN untuk memperbaiki sistem kelistrikan. Hal ini untuk menghindari pemadaman listrik yang terjadi.
"Saya kira sistemnya mesti diperbaikilah. Masa iya sampai bisa jebol total semua begitu kan," ungkap Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan, saat dihubungi Merdeka.com, Senin (5/8).
Dia mengakui bahwa pemadaman listrik seperti yang terjadi kemarin, merupakan pengalaman baru. Sebab juga diikuti dengan terganggunya saluran komunikasi dan transaksi perbankan. "Itu kan seumur-umur baru kali ini PLN begitu," kata dia.
Reporter: Rhandana Kamilia
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya