Peternak sebut daging ilegal asal India banjiri pasar tradisional
Merdeka.com - Permasalahan daging sapi dalam negeri tak kunjung usai. Selain tingginya ongkos angkut atau biaya logistik, persoalan lain yang membebani peternak yakni masih ditemukannya daging impor untuk industri merembes ke pasar tradisional. Akibatnya serapan sapi lokal menjadi terhambat akibat murahnya harga daging impor yang mereka tawarkan.
Ketua Umum DPP Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Teguh Boediyana mengatakan, membanjirnya produk sapi impor di pasar becek ikut memukul kesejahteraan peternak, padahal dalam aturannya hal tersebut dilarang pemerintah.
"Permendag No.46/2013 pasal 17 menyatakan karkas, daging dan jeroan impor hanya untuk kebutuhan industri, hotel, catering dan restoran, namun saat ini sudah banyak di antara kita karkas beredar di pasar tradisional, tentu ini akan mendistorsi pasar," katanya di Jakarta, Selasa (5/1)
Dalam investigasi lapangan yang dilakukan PPSKI, ditemukan banyak daging ilegal asal India yang masuk ke pasar tradisional sekitar Jakarta. Daging karton seperti jenis, brisket bone, boneless beff, beef heart, trimmings 95 CL, lidah dan lainnya sudah menyebar di pasar rakyat yang diduga masuk melalui Batam, Singapura dan Malaysia.
"Memang pemerintah India secara legal menyatakan ada daging kerbau mereka yang diekspor ke Indonesia," ujarnya di Jakarta, Selasa (5/1).
Menurut Teguh, masuknya daging India bukan perkara baru. Dalam investigasi serupa yang dilakukan lembaganya 2004 lalu, ditemukan daging asal India yang merupakan daging kerbau itu beredar di pasar rakyat, namun anehnya hingga kini pemerintah enggan menindaknya.
"Saya yakin jika dibiarkan program swasembada pak Amran (Menteri Pertanian) juga akan gagal," ujarnya.
Direktur Utama PD. Dharma Jaya, Marina Ratna Dwi Kusumajati menyatakan akibat maraknya daging ilegal asal India, banyak produk yang dimiliki perusahaan plat merah milik DKI Jakarta itu tidak laku di pasaran akibat harga murah yang mereka tawarkan.
"Mereka menjual dengan harga Rp 5.000-10.000 di bawah harga PD. Dharma Jaya, tentu kita kalah," ujarnya.
Akademisi Universitas Padjajaran Rochadi Tawaf menambahkan, masuknya daging India yang belum bebas predikat penyakit mulut kuku (PMK) dikhawatirkan memberikan mimpi buruk bagi industri peternakan nasional. Dia mencontohkan kasus PMK yang terjadi di Inggris 2001 telah meluluhlantahkan perekonomian negara ratu Elisabeth dengan kerugian mencapai 3 miliar poundsterling.
"Kerugian bukan hanya di sektor peternakan, tetapi mencapai 120 sektor lainnya," tutupnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya