Petani terabaikan, Guru Besar IPB pesimistis RI swasembada pangan
Merdeka.com - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Sentosa pesimistis pemerintahan saat ini bisa mewujudkan swasembada pangan. Sebab, petani sebagai garda terdepan dalam mewujudkan produksi pangan berkecukupan masih hidup memprihatikan.
"Saya pesimistis. Bagi saya bagaimana menjamin kepentingan petani kecil. Kita fokus petani, dimana 20-30 tahun terakhir ini diabaikan. Jadi kondisinya sudah lampu merah gelap," katanya dalam dikusi 'Pangan Kita' yang digagas merdeka.com, Ikatan Jurnalis Televisi (IJTI), dan Institut Komunikasi Nasional (IKN), Jakarta, Senin (25/5).
Dia menyebut, penghasilan petani masih lebih rendah ketimbang upah minimum provinsi di Indonesia. Sebagai ilustrasi, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, upah minimum terendah tahun ini terdapat di provinsi Nusa Tenggara Timur, sebesar Rp 1,25 juta per bulan. Nah, penghasilan petani rata-rata hanya sekitar Rp 1,030 juta per bulan.
"Kita lihat nilai tukar petani ini turun. Padahal inflasi sudah mencapai 21 persen dalam tiga tahun terakhir," terangnya.
Parahnya, menurut Dwi, pemerintah lebih mementingkan perkebunan ketimbang pertanian. Ini dibuktikan dengan perluasan lahan kebun sawit lebih cepat ketimbang persawahan.
"Perluasan perkebunan selama 25 tahun meningkat 144 persen. Sedangkan sawah hanya meningkat 2,6 persen," ungkapnya. (mdk/yud)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya