Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pertamina diyakini mampu kelola Blok Rokan dengan teknologi ini

Pertamina diyakini mampu kelola Blok Rokan dengan teknologi ini Ilustrasi migas. Istimewa ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Pakar geologi, Rovicky Dwi Hariputro menilai bahwa Pertamina tidak memiliki kendala untuk menerapkan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Sebab, BUMN tersebut terbukti berhasil mengaplikasikan teknologi itu di beberapa lapangan minyak yang dikelola.

"Secara teknologi Pertamina mampu. Sama sekali tidak masalah," kata Rovicky di Jakarta, Minggu (5/8).

Menurut Rovicky, pengalaman Pertamina selama ini dalam menerapkan teknologi EOR, bisa diaplikasikan di Blok Rokan, meski harus menyesuaikan dengan karakteristik yang ada. "Jadi dari sisi knowledge, ya. Yang penting, Pertamina harus memperhitungkan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda, baik secara geologi maupun jenis minyak," lanjutnya.

Hal lain yang menjadikan teknologi bukan hambatan, karena seluruh peralatan dan teknologi sudah terpasang dan sudah terinstal di lapangan di sana. Dengan demikian, Pertamina tinggal menjalankan saja teknologi itu.

"Jadi teknologinya memang tidak masalah. Karena yang penting, kemampuan manajerial Pertamina dalam menerapkan teknologi itu. Terutama, apakah teknologi tersebut bisa diaplikasikan terhadap sistem administrasi atau sistem pengambilan keputusan di Pertamina," lanjutnya.

Teknologi EOR sendiri memang sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan produksi di Blok Rokan. Terutama untuk lapangan besar yaitu Minas dan Duri. Melalui teknologi EOR, lanjut dia, jumlah minyak yang bisa terambil bisa ditingkatkan.

Rovicky menjelaskan, bahwa di Blok Rokan terdapat dua metode yang dipergunakan melalui teknologi EOR. Yaitu metode waterflooding dan steamflooding. Waterflooding mempergunakan air biasa yang dimasukkan ke dalam injection, sedangkan steamflooding mempergunakan uap.

"Tujuannya, agar minyak menjadi lebih cair dan lebih mudah dialirkan. Kalau tidak memakai teknologi tersebut, maka minyak akan sulit untuk diambil karena minyak seolah-olah lengket di batuan," kata dia.

Di Blok Rokan, kedua metode tersebut sama-sama dibutuhkan, tergantung jenis batuan dan jenis minyak. Kalau minyaknya tergolong kental, berat dan mengandung lilin, itu lebih bagus dengan cara steamflooding. Sedangkan waterflooding untuk minyak yang biasa saja, tidak terlalu kental, tetapi masih tersembunyi di pori-pori.

"Untuk waterflooding Pertamina tidak ada masalah sama sekali. Sedangkan untuk steamflooding, Pertamina harus menyesuaikan," kata dia.

Soal teknologi EOR, Pertamina memang sudah berpengalaman menerapkan, termasuk 16 lapangan alih kelola. Salah satunya melalui melalui anak PT Pertamina Hulu Energi Siak yang menerapkan teknologi EOR dengan uap air panas atau steamflood. Penerapan teknologi tersebut untuk sumur eksplorasi Kumis-2 di Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Sebelum Pertamina melakukan alih kelola pada 2014, sebelumnya Siak juga dikeola Chevron.

Lapangan lain yang sudah menerapkan teknologi ini adalah Pangkalan Susu Field, tepatnya di Struktur Gebang. Melalui anak perusahaannya, Pertamina EP, BUMN tersebut menerapkan untuk 11 sumur. Dari 11 sumur EOR tersebut, enam sumur injeksi air dan lima sumur dikerjakan dengan Hydraulic Fracturing.

Sementara untuk metode warterflooding, BUMN tersebut menerapkan melalui PT Pertamina EP. Salah satu lapangan yang menerapkan metode ini adalah Pangkalan Susu Field, tepatnya di Struktur Gebang.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP