Pertamina disayangkan tak jadi raja di negeri sendiri
Merdeka.com - Peneliti Senior LeKS Indonesia, Ukay Karyadi menyayangkan penguasaan hulu migas nasional oleh BUMN Pertamina hanya sebesar 15 - 20 persen. Jumlah tersebut terbilang kecil jika dibandingkan dengan negara lain dalam pengelolaan migas negara.
"Perbandingannya negara Brasil mencapai 81 persen, Aljazair 78 persen, Norwegia 58 persen, dan Malaysia 47 persen, sehingga dapat dikatakan bahwa Pertamina tidak berperan sebagai tuan rumah di negaranya sendiri," ujar Karyadi dalam diskusi Urgensi RUU Migas dan Kedaulatan Energi Nasional di Gren Alia Cikini, Jakarta, Jumat (22/4).
Kondisi seperti ini, lanjut Karyadi, dinilai akan mengancam ketahanan energi nasional. Sebab, tidak seharusnya Pertamina sebagai tuan rumah tidak mendominasi penguasaan migas nasional.
"Kondisi ini sangat mengancam ketahanan energi kita," katanya di Hotel grand Alia Cikini Jakarta, Jumat (22/4).
Karyadi menambahkan, kendati memberi kontribusi signifikan dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi, dominasi asing dalam pengelolaan Migas juga dinilai memiliki sisi negatif bagi perekonomian nasional.
"Dengan adanya investasi asing, nilai tambah alias surplus yang dihasilkan dalam proses pembangunan ekonomi akan mengalir ke negara-negara pemodal. Nilai tambah ekonomi yang lari ke luar negeri cenderung meningkat, seiring dengan kian derasnya modal asing yang masuk ke tanah air," tandasnya.
Oleh karena itu dia meminta rancangan UU Migas harus diarahkan agar penguasaan dilakukan oleh Pertamina yang bertindak sebagai NOC (National Oil Company)
"Namun bila nantinya hasil RUU migas tidak sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945, saya yakin judicial review akan dilakukan seperti layaknya UU Migas sebelumnya," tukas dia.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya