Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pertamina akui kecurangan solar terjadi saat selisih harga tinggi

Pertamina akui kecurangan solar terjadi saat selisih harga tinggi Penimbunan solar dan elpiji di Bogor. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - PT Pertamina (Persero) mengakui adanya kecurangan dalam penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar pada 2014. Namun, kecurangan tersebut terjadi saat harga solar subsidi dan non subsidi alami disparitas harga yang tinggi.

Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina Muhammad Iskandar mengatakan kecurangan tersebut terjadi saat pemerintah belum menerapkan pemberian subsidi tetap sebesar Rp 1.000 per liter untuk solar yang dimulai tahun lalu. Selain itu, kecurangan itu bukan dilakukan oleh SPBU Pertamina, melainkan terjadi di pihak pelansir yang melakukan penimbunan.

"Kemarin tahun 2014 kecurangan itu bukan terjadi di Pertamina tapi banyak pelansir yang dituang ke industri. Jadi mereka mengisi solar lalu menuang di tempat lain, lalu mengisi lagi. Karena perbedaan harga antara solar subsidi dan non subsidi besar," ujar Iskandar di kantor Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO 31.102.02, Jakarta, Rabu (17/2).

Namun, sejak pemerintah menurunkan gap solar subsidi dan non subsidi hanya Rp 1.000 per liter, maka kecurangan tersebut menghilang di 2015.

"Celah kecurangan sudah tidak ada. Sehingga tidak menjadi bisnis menarik. Dan itu kelihatan daerah mana yang banyak pelansir itu sampai 50 persen turunnya. Karena itu cuma lansir. Tapi begitu harga (solar subsidi dan non subsidi) dibedakan Rp 1.000 sama pemerintah, otomatis menghilang. Dan antrian tidak ada lagi," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Metrologi Kementerian Perdagangan, Hari Prawoko mengatakan pihaknya banyak menerima pengaduan kecurangan SPBU tahun lalu. Kecurangan terbesar terjadi pada penjualan solar.

"Paling banyak 2015 itu SPBU di Medan sama Riau," kata Hari.

Hari tak bisa memastikan siapa pelaku kecurangan tersebut. Dia hanya bisa menduga kecurangan bisa dilakukan oleh pihak yang memiliki akses ke alat ukur BBM di SPBU.

"Kami belum punya data pasti, karena mobil itu jarak dari satu Depo sama SPBU jauh banget. Jadi ada peluang menguap, jadi kami nggak bisa juga menyalahkan tiba-tiba berkurang," jelas dia. (mdk/sau)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP