Perang Dagang AS - China Tak Akan Berdampak Pada Ekonomi Indonesia
Merdeka.com - Rumah ekuitas terkemuka di Indonesia, UBS Indonesia menyebut bahwa gejolak perang dagang antara Amerika Serikat dan China tidak berdampak pada perekonomian maupun equity Indonesia.
Head of Research UBS, Joshua Tanja menjelaskan, tidak berdampaknya perang dagang karena Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekspor kedua negara ini. Tidak seperti Filipina, Thailand serta negara-negara yang terbuka perekonomiannya.
"Perang dagang yang terjadi antara AS dan China tidak mempengaruhi equity market Indonesia, karena Indonesia tidak bergantung pada ekspor kedua negara ini,": ujarnya di Jakarta, Selasa (5/3/2019).
Dia menegaskan, meski perang dagang memanas lagi, masih tetap tidak akan mempengaruhi Indonesia.
Meskipun tahun ini GDP Indonesia mengalami pelemahan akibat investment yang menurun, namun UBS yakin kondisi ini akan membaik di 2020 mendatang karena perekonomian Indonesia yang stabil di tengah melemahnya pertumbuhan ekonomi global saat ini.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat mencapai kesepakatan perdagangan formal pada pertemuan puncak sekitar 27 Maret. Sejauh ini dilaporkan banyak kemajuan dalam perundingan antara kedua negara guna menyelesaikan masalah perang dagang.
Dikutip dari Antara, Senin (4/3), kedua negara telah saling memberlakukan tarif untuk barang-barang satu sama lain senilai ratusan miliar Dolar AS, mengguncang pasar keuangan, mengganggu rantai pasokan manufaktur, dan menyusutkan ekspor pertanian AS.
China dipercaya akan menurunkan tarif pada barang-barang buatan AS termasuk produk pertanian, bahan kimia dan mobil dengan imbalan pengurangan sanksi-sanksi dari Washington.
Sumber wall street journal memperingatkan bahwa rintangan-rintangan tetap ada, dan masing-masing pihak menghadapi kemungkinan perlawanan di dalam negeri bahwa persyaratan-persyaratannya terlalu menguntungkan bagi pihak lain.
"Sebagai bagian dari kesepakatan akan ada pembelian gas alam senilai USD 18 miliar dari Cheniere Energy Inc yang berbasis di Houston," kata laporan itu.
Cheniere menolak berkomentar tentang potensi kesepakatan pasokan LNG baru dengan China. Pihaknya tahun lalu menandatangani kesepakatan 20 tahun untuk memasok gas alam ke perusahaan milik negara Chinese National Petroleum Corp (CNPC) dari terminal ekspor Louisiana hingga 2043.
Reporter: Ayu Lestari Wahyu Puranidhi
Sumber: Liputan6.com
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya