Penurunan Suku Bunga Dinilai Tak Cukup Dongkrak Pertumbuhan Kredit
Merdeka.com - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, Sunarso menegaskan, bahwa penurunan suku bunga kredit tidak cukup efektif untuk meningkatkan penyaluran kredit. Sebab, data perseroan menunjukkan adanya penurunan suku bunga justru tak mampu mendongkrak angka pertumbuhan kredit.
Dia menjelaskan, saat bunga kredit KUR mencapai 22 persen di tahun 2015 justru angka realisasi penyaluran kredit meningkat pesat. Bahkan, mampu menembus double digit.
"Pada saat itu pertumbuhan kredit nasional itu selalu double digit, bahkan BRI pernah 22 persen, pernah 25 persen," bebernya dalam webinar bertajuk Prospek BUMN 2021 Sebagai Lokomotif PEN dan SWF, Kamis (4/3).
Akan tetapi, setelah tahun 2015 suku bunga KUR diturunkan dari level 22 persen ke 15 persen dengan skema subsidi, di mana rakyat hanya menanggung bunga sebesar 7 persen. Relaksasi ini justru turut memangkas realisasi penyaluran kredit perseroan.
"Ternyata datanya pada saat suku bunga yang dibayarkan oleh rakyat itu rendah, pertumbuhan kredit kita itu nggak sampai double digit. Sepanjang periode itu hanya sekali mencapai double digit hanya di 2018," terangnya.
"Kalau begitu, boleh dong disimpulkan ternyata lowering interest rate tidak serta merta mendorong pertumbuhan kredit. Atau penurunan suku bunga bukan satu-satunya faktor yang mendongkrak pertumbuhan kredit," tegasnya.
Dia menyebut, dengan fenomena tersebut mengindikasikan perlunya kehadiran solusi lain yang dinilai lebih jitu untuk meningkatkan realisasi penyaluran kredit. Diantaranya dengan memperbaiki daya beli masyarakat untuk menggenjot tingkat konsumsi rumah tangga.
"Rasanya memang dibutuhkan kebijakan untuk membuat dan melanjutkan proyek infrastruktur yang memberikan pekerjaan kepada masyarakat untuk mendorong daya beli dan konsumsi. Ini yang perlu di dorong adalah bagaimana meberikan pekerjaan kepada masyarakat," ucapnya.
Selanjutnya, memperluas jangkauan insetif juga diyakini penting untuk kembali menggerakkan tingkat konsumsi oleh orang banyak. "Seperti insetif bagaimana PPnBM 0 persen ditanggung pemerintah, peningkatan loan to value supaya orang berminat ambil kredit konsumtif," pungkas Sunarso.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya