Pengusaha Soal Penerapan B20: Bisa Merusak Dari Segi Mesin
Merdeka.com - Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani menyebut bahwa realisasi penggunaan biodiesel sebesar 20 persen atau B20 secara dampak masih belum bisa dirasakan. Meski sudah berjalan selama tiga bulan sejak 1 September 2018 lalu, kebijakan ini masih menemui sejumlah persoalan di lapangan.
"Iya belum (bisa dilihat) karena apa? penggunaan B20 juga masih banyak kendala. Tadi kan disampaikan ternyata untuk ikut ke arah sana (B20) itu bisa merusak dari segi mesin. Jadi gak segampang itu. kita mau mendorong tapi gak segampang itu untuk bisa penggunaan B20 secara menyeluruh," katanya saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Rabu (5/12).
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan dampak penggunaan B20 (Solar campur 20 persen minyak sawit) tidak bisa dirasakan dalam waktu cepat. Menurutnya, perluasan penggunaan B20 baru mulai terasa pada 2019.
"Ya tentu saja inikan sudah berdampak. Pemerintah sudah keluarkan itu. Jadi dampaknya 2019 dan seterusnya baru terasa," terangnya.
Perluasan penggunaan B20, kata dia, juga bertujuan untuk meningkatkan ekspor pasar minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). "Jadi kebijakan B20 memang diarahkan untuk turunkan defisit migas dengan konversi minyak dalam negeri ke biodiesel. Itu supaya atau sehingga bisa tingkatkan ekspor CPO," ujarnya. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya