Penguatan IHSG dan Rupiah tak murni didorong pencapresan Jokowi
Merdeka.com - Kepastian Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk maju sebagai calon presiden, ditanggapi beragam. Tidak hanya oleh politisi tapi juga pengamat politik, akademisi, hingga pelaku ekonomi.
Terlebih, kondisi ekonomi seakan memberikan respons positif dan seolah merestui Jokowi untuk maju menjadi calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 4.878 atau menguat tajam sebanyak 152 poin. Aliran dana asing yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 7,48 triliun. Nilai tukar Rupiah ikut menguat 11 poin ke level Rp 11.375 per USD. Fenomena-fenomena itu terjadi sesaat setelah Jokowi untuk pertama kalinya menyatakan kesiapannya bertarung di pilpres.
Direktur INDEF Enny Sri Hartati melihat fenomena penguatan IHSG maupun nilai tukar tidak murni terpengaruh situasi politik dan faktor pencapresan Jokowi . Dia lebih melihat bahwa penguatan IHSG dan Rupiah didorong kondisi ekonomi yang membaik. Dia tidak yakin penguatan ini akan bertahan lama.
"Jadi apa yang sekarang terjadi di ekonomi kita sedang membaik, di mana kinerja investasi dan sektor riil membaik. Tetapi penguatan IHSG dan Rupiah ini bukan faktor fundamental. Jadi memang respons pasar saja," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Sabtu (15/3).
Enny tidak menampik bahwa sentimen politik berpengaruh ke pelbagai sektor, termasuk ekonomi. Dia hanya berharap, semua pihak bisa menjaga agar panasnya suhu politik tidak mengganggu stabilitas ekonomi saat ini.
"Tetapi yang terjadi saat ini kebanyakan dari sentimen politiknya, dimana sentimen politik ini penuh dengan ketidakpastian, selalu ada perubahan dalam dinamikanya. Itu yang justru harus diwaspadai. Karena saat ini ekonomi sedang stabil, jangan sampai sentimen ekonomi bisa berubah," jelas dia.
"Jangan sampai ekonomi negara ini kita justru dijadikan momentum dengan berbagai macam kepentingan," tutup dia.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya