Pengembangan industri farmasi nasional terganjal pendanaan
Merdeka.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui pendanaan menjadi batu ganjalan industri farmasi Tanah air berkembang. Apalagi, saat ini sudah tak ada alokasi anggaran di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016.
Direktur Jendral Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kemenperin Sigit Dwiwahjono mengaku kesulitan mencari sumber pendanaan untuk membangun pabrik dan mengembangkan bahan baku obat di Indonesia. Padahal, investasi bahan baku obat cukup besar mencapai Rp 200 miliar.
"Kan anggaran dipotong semua, untuk obat kanker termasuk paracetamol dan lainnya sebesar Rp 200 miliar, tapi kan tidak ada anggarannya, di Kemenperin, Kemenkes dan Kementerian BUMN," ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Senin (29/8).
Pemerintah sendiri saat ini membuka peluang bagi asing untuk berinvestasi di sektor farmasi, seperti membangun pabrik bahan baku obat. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat.
"Insentif juga sedang dibahas supaya lebih cepat, juga untuk kelancaran bahan baku impor agar tidak terhalang apakah relaksasi bea masuk atau lainnya," ungkapnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya