Pengembangan Blok Masela tak berikan keuntungan untuk masyarakat
Merdeka.com - Mantan Deputi Perencanaan Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Aussie Gautama menilai rencana pengembangan Blok Masela, Maluku sama halnya dengan tambang emas di Papua yang dikelola PT Freeport Indonesia. Dua proyek tersebut tidak memberikan multiplier effect bagi masyarakat di sekitarnya.
"Multiplier effect ini bukan masalah onshore atau offshore. Kita lihat Freeport, tambangnya di tengah Irian, tapi makmur kah Irian? Kemudian di Bontang. Orang-orang di sekitar Bontang ketika diwawancara mengatakan di dalam situ makmur ada lapangan golf, tapi kita di sini miskin, kumuh, tidak ada listrik," ujar dia di Jakarta, Sabtu (2/1).
Menurut dia, pemerintah tampaknya harus berhati-hati dalam mengambil keputusan pembangunan kilang di blok ini, mengingat besarnya potensi gas dan pengembangan industri turunannya.
Kendati demikian, dia berharap pemerintah tak perlu mengulur-ulur waktu untuk memutuskan pembangunan kilang di ladang gas abadi tersebut.
"Proyek ini sudah dibicarakan sejak 2008, studi sudah dilakukan berbagai pihak, sekarang tinggal eksekusi dan final decision di 2018 dan akan menghasilkan di 2024. Ini proyek senilai USD 30 miliar, dan akan memakan waktu 4 tahun," jelas dia.
Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan, pembangunan infrastruktur dalam upaya pengembangan Blok Masela akan memakai konsultan internasional untuk memilih dua skenario yaitu sistem kilang terapung di laut (offshore) atau di darat (onshore).
Diperkirakan biaya pengembangan lapangan untuk membangun kilang di darat akan lebih mahal jika dibandingkan laut. Jika dibangun di darat setidaknya membutuhkan investasi sebesar USD 19,3 miliar. Sedangkan jika dibangun di laut hanya membutuhkan USD 14,8 miliar.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya