Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pengamat: Tak ada perbedaan faktor keselamatan di penerbangan murah dan premium

Pengamat: Tak ada perbedaan faktor keselamatan di penerbangan murah dan premium pesawat. shutterstock

Merdeka.com - Pengamat penerbangan, Alvin Lie menyebut bahwa faktor keselamatan merupakan syarat terpenting yang harus dipenuhinya oleh setiap maskapai penerbangan. Katanya, tidak ada perbedaan dalam penerapan standar keselamatan antara maskapai penerbangan murah (low cost carrier/LCC) dengan maskapai full service alias premium.

"Dalam penerbangan itu, keselamatan adalah prioritas terpenting, tertinggi, dan satu-satunya. Safety tidak dapat ditoleransi, mulai rancang pesawat, aspek safety selalu jadi prioritas," kata dia, dalam diskusi, di Hotel Millennium, Jakarta, Rabu (7/11).

"Untuk mendapatkan izin maskapai penerbangan, mau LCC atau full service, semua syaratnya sama, termasuk kelaikan pesawatnya, tim teknis, perawatan semua sama," lanjut Alvin.

Biaya tiket yang murah bukan menjadi salah satu faktor kurangnya keselamatan penerbangan. Dia menjelaskan murah atau mahalnya tiket itu merupakan pembeda dalam pelayanan di maskapai tersebut.

"Maskapai besar (premium) juga punya LCC. Ini hanya strategi bisnis, tapi mengenai kedisiplinan pemeliharaan pesawat semua sama, karena strategi bisnis ini untuk mengeksplorasi peluang-peluang bisnis yang ada," jelasnya.

"Yang menyebabkan mahal ini kan makanan, fasilitas di bandara, Tapi biaya perawatan (pesawat) tidak bisa ditawar," imbuhnya.

Dia mengatakan, yang menjadi tantangan, terutama bagi maskapai LCC adalah meyakinkan masyarakat bahwa aspek keselamatan tetap dijaga meski biaya penerbangan murah. "Menjadi tantangan bagi seluruh maskapai penerbangan Low Cost Carrier (LCC) untuk meluruskan persepsi publik Bahwa LCC walaupun berbiaya murah mereka juga harus memenuhi persyaratan yang sama dengan yang premium," tandasnya.

Di sisi lain dia mengatakan bahwa keselamatan penerbangan adalah tanggung jawab semua pihak, baik itu maskapai, pemerintah, maupun pengguna jasa alias penumpang. "Kita harus fair melihat. Penumpang pun berkewajiban menjaga keselamatan dalam penerbangan."

Dia mengatakan penerbangan merupakan dunia dengan tingkat risiko sangat tinggi. Kelalaian kecil dapat mendatangkan bahaya. "Safety ini tidak bisa harus pengawasan dari regulator. Safety itu berangkat dari diri kita sendiri. Semua yang terkait dalam penerbangan tidak cuma regulator," ujar dia.

"Jangan penumpang misalnya dilarang menggunakan power bank. Di dalam pesawat gunakan power. Power Bank meledak nanti yang disalahkan Airline-nya. Mengenai handphone juga," kata dia.

Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat dalam sebuah penerbangan, termasuk penumpang betul-betul taat terhadap aturan penerbangan dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan pihak lain.

"Ada kejadian penumpang salah satu airline di Padang. Katanya tidak sengaja nyenggol handle emergency exit. Yang jelas ini tidak mungkin. Yang namanya handle selalu tertanam dan tidak mungkin tersenggol terbuka. Untuk buka perlu kesengajaan dan kekuatan. Jangan setelah kejadian seperti ini semua penumpang diturunkan. Ini Airline-nya disalahkan," tegasnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP