Pengamat nilai budaya di Indonesia buat malas tenaga kerja lokal
Merdeka.com - Pengamat Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjudin Nur Effendi, membantah jika tenaga kerja di Indonesia disebut pemalas. Menurutnya, tenaga kerja pribumi justru lebih mandiri dan mampu bersaing di pasar kerja internasional.
"Sebenarnya orang-orang Indonesia yang di luar negeri disiplin, di negaranya saja yang manja," ujar Tadjudin di Jakarta, Jumat (27/2).
"Penyebabnya apa? Budaya. 'Kalau kita nganggur nanti Pakde kita ngasih uang, ibunya bantu' tapi kalau di luar negeri mereka mandiri sehingga bisa sukses, nah itu yang jelek. KKN, itu juga jelas karena masih mengakar banget sekarang," tambahnya.
Dirinya mencontohkan, sampai saat ini sudah semakin banyak anak bangsa yang berkarya di luar negeri. Beberapa diantara mereka bahkan sudah dikontrak dengan lembaga-lembaga international.
"Itu anak-anak umur 30 tahun ke bawah. Ada yang bisa menjadi tenaga kerja media dari London yang gajinya Rp 3 juta per hari, tapi di Indonesia rendah," kata dia.
Lebih lanjut, Tadjudin meminta pemerintah untuk memberi perhatian khusus kepada anak bangsa yang mampu bersaing di pasar kerja asing. Sebab jika tidak, Indonesia akan kehilangan putra-putri terbaiknya yang sudah mampu membuktikan diri di negeri orang.
"Tenaga kerja kita kalau nggak hati-hati bisa di eksploitasi oleh outsourcing international. Makanya kita harus lihat mana yang rendah, yang rendah itu 50 tahun ke atas."
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya