Pengamat: Holding bisa buat BUMN jadi pemain dunia
Merdeka.com - Pengamat Energi dari Universitas Gajah Mada, Fahmi Radhi menilai, rencana pembentukan holding BUMN menjadi keharusan dan bisa segera dieksekusi. Menurutnya, pembentukan holding bukan hanya menyangkut efisiensi dan akumulasi modal, tapi agar BUMN Indonesia bisa bersaing di tingkat dunia.
Fahmi mengatakan, holding BUMN nantinya bisa diarahkan agar perusahaan pelat merah memiliki keunggulan sehingga bisa bersaing menjadi pemain dunia. "Misal Pertamina jadi pemimpin holding energi maka Pertamina harus menjadi pemain dunia," ujar Fahmi dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (25/10).
Sebelumnya Komisi VI DPR memperingatkan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk tidak gegabah membentuk enam holding BUMN tanpa persetujuan DPR. Bila holding BUMN tetap dilakukan, Komisi VI menjamin akan ada masalah besar yang muncul sebagai konsekuensinya.
Rini Soemarno kini sedang menyusun roadmap pembentukan holding BUMN. Enam sektor holding yang sedang digarap adalah sektor migas, tambang, keuangan, jalan tol, perumahan serta konstruksi. Holding BUMN adalah integrasi BUMN dengan usaha sejenis, di mana BUMN yang paling kuat berpeluang menjadi pengelola.
Adapun tujuan lain dari holding tersebut, agar BUMN-BUMN yang kerap merugi bisa dikelola lebih profesional oleh BUMN yang kuat sehingga tidak melulu membebani keuangan negara atau APBN.
Meski demikian, kata Fahmi, pembentukan holding harus disertai konsep yang jelas, jangan sampai ada agenda lain yang memberikan keuntungan pihak-pihak tertentu.
"Sedang prosesnya harus diawali dengan integrasi atau bisa juga merger antara BUMN sejenis. Baru terbentuk holding. Holding energi adalah yang paling siap diwujudkan, kemudian holding BUMN pangan dan perbankan," ungkapnya.
Menurutnya, penunjukan holding bisa dilakukan dengan dua cara, bisa tunjuk langsung misal menunjuk Pertamina karena pengalamannya, bisa juga membentuk perusahaan baru di mana Pertamina ada di bawahnya.
"Namun penunjukan Pertamina bisa menjadi pilihan pertama karena Pertamina sudah dikenal sebagai national oil company yang mewakili Indonesia," ungkapnya.
Jika holding BUMN sudah terbentuk, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah perencanaan atau corporate planning, melakukan kontrol dan pastinya koordinasi perusahaan-perusahaan yang di bawahnya. Bagi Fahmi, pengakuan Menteri BUMN Rini Soemarno bahwa pembentukan holding akan meniru apa yang telah dilakukan di Malaysia dan Singapura bukan masalah.
"Pasti tidak plek, apalagi karakteristik di sini berbeda dengan dua negara tersebut. Indonesia sudah terlalu banyak BUMN jadi agak lebih sulit. Namun upaya pembentukan holding menjadi satu kebutuhan mendesak bagi perbaikan BUMN," jelas dia.
Wakil Ketua Komisi VI Azam Asman Natawijaya mengatakan bahwa hingga saat ini belum pernah diajak bicara tentang rencana pembentukan enam holding BUMN oleh Kementerian BUMN. Bahkan kabar soal holding hanya didapatkan Komisi VI dari pemberitaan media.
"Seharusnya rencana holding BUMN harus dibicarakan dengan Komisi VI yang membidangi BUMN. Apalagi, holding bisa mengubah komposisi saham di dalam perusahaan-perusahaan BUMN. Pentingnya pengawasan terkait pembentukan super holding BUMN," ucap Azzam.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya